Masyarakat Daya' menempatkan nyawa manusia pada posisi yang sangat tinggi. Meski tidak terdapat peraturan adat yang menyatakan nyawa ganti nyawa, tetapi ada peraturan adat yang dapat dianggap "menggantikannya". Peraturan adat ini dinamakan "PATI NYAWA". Secara umum adaq kesamaan peraturan adat pati nyawa ini dalam berbagai subsuku Daya', hanya istilahnya saja yang mungkin berbeda.
Dalam buku yang ditulis oleh R. Masri Sareb Putra ( 2010 ) yang berjudul " From Headhunter To Catholics, Studi Dan Pendekatan Semiotika Dayak Jangkang", terdapat kutipan tentang Hukum Adat Dayak mengenai Pati Nyawa ini.
Buku Hukum Adat Daya' Jangkang pada bab 24 pasal 1 dijelaskan bahwa Pati Nyawa adalah tuntutan adat bagi seseorang yang dibunuh atau terbunuh. Yang dapat dikenakan Hukum Adat PAti Nyawa yaitu orang yang meninggal dunia akibat kena tabrak kendaraan, jatuh dari kendaraan, kena senjata tajam atau diracuni. Meninggal akibat tersebut di atas bila ada asuransi maka tidak dikenakanpengganti alat tubuh manusia, tetapi jika tidak ada asuransi maka maka wajib membayar pengganti organ tubuh. Biaya penguburan ditanggung pelaku.
Ada enam komponen Adat Pati Nyawa yaitu:
1. Badan Adat terdiri dari 18 tael x 30 singkap mangkok = 540 singkap mangkok.
2. Kepala Adat terdiri dari 18 buah tajau / tempayan.
3. Sola Adat terdiri dari 18 omonk daging babi.
4. Beras Adat 200 kg.
5. Tuak Adat 2 tempayan besar masing-masing berisi 60 liter tuak.
6. Perlengkapan sayur mayur.
Untuk Adat Setengah Pati Nyawa yaitu peraturan yang dikenakan terhadap pelaku yang mengakibatkan seseorang yang lain mengalami luka parah. Hukum Adat ini wajib dibayarkan sesegera mungkin. Biaya hukuman Adat ini dapat di kurangi dari jumlah biaya berobat.
Sedangkan akibat luka parah yang mengakibatkan seseorang lumpuh, maka si penyebab kecelakaan wajib membayar hukuman Adat Setengah Pati Nyawa diluar biaya berobat ( tidak dibebani biaya hidup ). Adapun rincian Hukum Adat Setengah Pati Nyawa adalah sebagai berikut:
1. Badan Adat terdiri dari 9 tael x 30 singkap mangkok = 270 singkap mangkok.
2. Kepala Adat terdiri dari 9 buah tajau / tempayan.
3. Sola Adat 9 omongk daging babi.
4. Beras Adat 100 kg.
5. Tuak Adat 1 tempayan berisi 60 liter tuak.
6. Perlengkapan sayur mayur.
Untuk warga Daya' Jangkang yang meninggal karena dibunuh secara sengaja ( direncanakan ), maka pihak keluarga dapat menuntut Hukum Adat Pati Nyawa dan Pengganti Organ Tubuh / Akibat Kehilangan Nyawa. Ini merupakan Hukuman Adat yang paling berat.
Hukuman Adat Pengganti organ tubuh manusia ini seperti termuat dalam buku Hukum Adat Daya' Jangkang pada Bab 27 pasal 1 adalah sebagai berikut:
1. Darah ( Tuak Pati ): 1 buah tajau berisi tuak 60 liter.
2. Rambut: 1 lusin benang hitam.
3. Tempurung Kepala: 1 buah bokor tembaga.
4. Biji Mata: 2 buah lotos.
5. Daun Telinga: 2 buah par tembaga.
6. Lubang Hidung: 2 batang pipa besi.
7. Batang Hidung: 1 buah oncoi tembaga.
8. Mulut: 1 buah pipa tembaga 4 persegi panjang.
9. Gigi: 7 buah beliung.
10. Suara: 1 buah gong naga.
11. Kulit: 1 kayu ( sekitar 20 m ) kain putih.
12. Otak: 1 karung tepung terigu.
13. Tulang punggung: 1 batang besi parang.
14. Tulang rusuk: 1 batang besi parang.
15. Tulang pinggang: 1 batang besi parang.
16. Tulang tangan: 2 batang besi parang.
17. Tulang paha: 1 batang besi paha.
18. Tulang lutut: 2 buah pipa tembaga.
19. Tulang betis: 1 batang besi bulat ( 8 m ).
20. Jari tangan: 2 buah serampang besi.
21. Jari kaki: 2 buah serampang besi.
22. Kuku: 20 buah skop/cangkul.
23. Telapak tangan: 2 buah talam tembaga.
24. Telapak kaki: sandal kulit.
25. Pergelangan tangan: 2 buah gima putih.
26. Urat-urat: 10 kg kawat.
27. Kemaluan: 1 buah lila.
28. Biji kemaluan: 2 pasang giring-giring tembaga.
29. Kerangka badan: 1 buah tajau hijau naga.
Total ada 29 komponen tubuh yang harus diganti dengan barang adat.
Penggantian dalam bentuk uang terhadap hukuman adat ini dimungkinkan bila sudah sangat terpaksa karena barang-barang yang diperlukan tidak dapat ditemukan / diperoleh. Sebisa mungkin hukuman adat ini dalam bentuk barang sehingga makna Hukum Adat benar-benar terasa.
Sumber: Majalah Kalimantan Review, 179/XIX/Juli 2010.
Tampilkan postingan dengan label Dayak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dayak. Tampilkan semua postingan
Jumat, 03 September 2010
HUKUM ADAT DAYA' JANGKANG: PATI NYAWA
Label:
Dayak,
gima,
giring-giring,
hukum adat,
Jangkang,
kalimantan barat,
lila,
lotos,
mangkok,
parang,
pati,
singkap,
sola,
tajau,
tempayan,
tuak
Rabu, 28 Juli 2010
Suku Dayak #2
Suku Dayak terdiri :
* Suku Dayak Punan di Kalimantan Tengah
* Suku Dayak Kanayatn di Kalimantan Barat
* Suku Dayak Iban di Kalimantan Barat
* Suku Dayak Mualang di Kalimantan Barat: Sekadau, Sintang
* Suku Dayak Bidayuh di Kalimantan Barat: Sanggau
* Suku Dayak Mali di Kalimantan Barat
* Suku Dayak Seberuang di Kalimantan Barat: Sintang
* Suku Dayak Sekujam di Kalimantan Barat: Sintang
* Suku Dayak Sekubang di Kalimantan Barat: Sintang
* Suku Dayak Ketungau di Kalimantan Barat
* Suku Dayak Desa di Kalimantan Barat
* Suku Dayak Kantuk di Kalimantan Barat
* Suku Dayak Ot Danum atau Dohoi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat
* Suku Dayak Limbai di Kalimantan Barat
* Suku Dayak Kebahan di Kalimantan Barat
* Suku Dayak Pawan di Kalimantan Barat
* Suku Dayak Tebidah di Kalimantan Barat
* Suku Dayak Bakumpai di Kalimantan Selatan Barito Kuala
* Suku Dayak Barangas di Kalimantan Selatan Barito Kuala
* Suku Dayak Bukit di Kalimantan Selatan
* Suku Dayak Pitap di Awayan, Balangan, Kalsel
* Suku Dayak Hulu Banyu di Kalimantan Selatan
* Suku Dayak Balangan di Kalimantan Selatan
* Suku Dayak Dusun Deyah di Kalimantan Selatan: Tabalong
* Suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah: Kabupaten Kapuas
* Suku Dayak Siang Murung di Kalimantan Tengah: Murung Raya
* Suku Dayak Bara Dia di Kalimantan Tengah: Barito Selatan
* Suku Dayak Ot Danum di Kalimantan Tengah
* Suku Dayak Lawangan di Kalimantan Tengah
* Suku Dayak Bawo di Kalimantan Tengah: Barito Selatan
* Suku Dayak Tunjung, Kutai Barat, rumpun Ot Danum
* Suku Dayak Benuaq, Kutai Barat, rumpun Ot Danum
* Suku Dayak Bentian, Kutai Barat, rumpun Ot Danum
* Suku Dayak Bukat, Kutai Barat
* Suku Dayak Busang, Kutai Barat
* Suku Dayak Ohong, Kutai Barat
* Suku Dayak Kayan, Kutai Barat, rumpun Apo Kayan
* Suku Dayak Bahau, Kutai Barat, rumpun Apo Kayan
* Suku Dayak Penihing, Kutai Barat, rumpun Punan
* Suku Dayak Punan, Kutai Barat, rumpun Punan
* Suku Dayak Modang, Kutai Timur, rumpun Punan
* Suku Dayak Basap, Bontang-Kutai Timur
* Suku Dayak Ahe di Kabupaten Berau
* Suku Dayak Tagol, Malinau, rumpun Murut
* Suku Dayak Brusu, Malinau, rumpun Murut
* Suku Dayak Kenyah, Malinau, rumpun Apo Kayan
* Suku Dayak Lundayeh, Malinau
* Suku Dayak Pasir di Kalimantan Timur: Kabupaten Pasir
* Suku Dayak Dusun di Kalimantan Tengah
* Suku Dayak Maanyan di Kalimantan Tengah: Barito Timur
o Suku Dayak Maanyan Paju Sapuluh
o Suku Dayak Maanyan Paju Epat
o Suku Dayak Maanyan Dayu
o Suku Dayak Maanyan Paku
o Suku Dayak Maanyan Benua Lima Maanyan Paju Lima
o Suku Dayak Warukin di Tanta, Tabalong, Kalsel
o Suku Dayak Samihim, Pamukan Utara, Kotabaru, Kalsel
* Suku Dayak Punan di Kalimantan Tengah
* Suku Dayak Kanayatn di Kalimantan Barat
* Suku Dayak Iban di Kalimantan Barat
* Suku Dayak Mualang di Kalimantan Barat: Sekadau, Sintang
* Suku Dayak Bidayuh di Kalimantan Barat: Sanggau
* Suku Dayak Mali di Kalimantan Barat
* Suku Dayak Seberuang di Kalimantan Barat: Sintang
* Suku Dayak Sekujam di Kalimantan Barat: Sintang
* Suku Dayak Sekubang di Kalimantan Barat: Sintang
* Suku Dayak Ketungau di Kalimantan Barat
* Suku Dayak Desa di Kalimantan Barat
* Suku Dayak Kantuk di Kalimantan Barat
* Suku Dayak Ot Danum atau Dohoi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat
* Suku Dayak Limbai di Kalimantan Barat
* Suku Dayak Kebahan di Kalimantan Barat
* Suku Dayak Pawan di Kalimantan Barat
* Suku Dayak Tebidah di Kalimantan Barat
* Suku Dayak Bakumpai di Kalimantan Selatan Barito Kuala
* Suku Dayak Barangas di Kalimantan Selatan Barito Kuala
* Suku Dayak Bukit di Kalimantan Selatan
* Suku Dayak Pitap di Awayan, Balangan, Kalsel
* Suku Dayak Hulu Banyu di Kalimantan Selatan
* Suku Dayak Balangan di Kalimantan Selatan
* Suku Dayak Dusun Deyah di Kalimantan Selatan: Tabalong
* Suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah: Kabupaten Kapuas
* Suku Dayak Siang Murung di Kalimantan Tengah: Murung Raya
* Suku Dayak Bara Dia di Kalimantan Tengah: Barito Selatan
* Suku Dayak Ot Danum di Kalimantan Tengah
* Suku Dayak Lawangan di Kalimantan Tengah
* Suku Dayak Bawo di Kalimantan Tengah: Barito Selatan
* Suku Dayak Tunjung, Kutai Barat, rumpun Ot Danum
* Suku Dayak Benuaq, Kutai Barat, rumpun Ot Danum
* Suku Dayak Bentian, Kutai Barat, rumpun Ot Danum
* Suku Dayak Bukat, Kutai Barat
* Suku Dayak Busang, Kutai Barat
* Suku Dayak Ohong, Kutai Barat
* Suku Dayak Kayan, Kutai Barat, rumpun Apo Kayan
* Suku Dayak Bahau, Kutai Barat, rumpun Apo Kayan
* Suku Dayak Penihing, Kutai Barat, rumpun Punan
* Suku Dayak Punan, Kutai Barat, rumpun Punan
* Suku Dayak Modang, Kutai Timur, rumpun Punan
* Suku Dayak Basap, Bontang-Kutai Timur
* Suku Dayak Ahe di Kabupaten Berau
* Suku Dayak Tagol, Malinau, rumpun Murut
* Suku Dayak Brusu, Malinau, rumpun Murut
* Suku Dayak Kenyah, Malinau, rumpun Apo Kayan
* Suku Dayak Lundayeh, Malinau
* Suku Dayak Pasir di Kalimantan Timur: Kabupaten Pasir
* Suku Dayak Dusun di Kalimantan Tengah
* Suku Dayak Maanyan di Kalimantan Tengah: Barito Timur
o Suku Dayak Maanyan Paju Sapuluh
o Suku Dayak Maanyan Paju Epat
o Suku Dayak Maanyan Dayu
o Suku Dayak Maanyan Paku
o Suku Dayak Maanyan Benua Lima Maanyan Paju Lima
o Suku Dayak Warukin di Tanta, Tabalong, Kalsel
o Suku Dayak Samihim, Pamukan Utara, Kotabaru, Kalsel
Suku Kutai
http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Kutai
Suku Kutai adalah suku asli di kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Kebudayaan Kutai berawal sejak berdirinya Kerajaan Kutai pada abad IV yang merupakan kerajaan Hindu pertama di Nusantara dengan rajanya yang terkenal, Mulawarman.
Kemudian berlanjut dengan Kesultanan Kutai dengan sultan terakhir Aji Parikesit. Setelah kekosongan yang lama telah diadakan penabalan sultan baru yaitu Aji Muhammad Salehuddin II.
Suku Kutai terdiri atas 4 sub-etnis yaitu :
1. Kutai Tenggarong di Tenggarong, Kutai Kartanegara
2. Kutai Kota Bangun di Kota Bangun, Kutai Kartanegara
3. Kutai Muara Ancalong di Muara Ancalong, Kutai Timur
4. Kutai Muara Pahu di Muara Pahu, Kutai Barat
Menurut situs "Joshua Project" suku Melayu Kutai Tenggarong berjumlah 314.000 jiwa.
Suku Kutai lainnya adalah Melayu Kutai Kota Bangun. Menurut situs "Joshua Project" suku Melayu Kutai Kota Bangun berjumlah 81.000 jiwa.
Bahasa Kutai terbagi ke dalam 3 dialek yang letaknya tidak saling berdekatan :
1. Kutai Tenggarong ( vkt )
2. Kutai Kota Bangun ( mqg )
3. Kutai Muara Ancalong ( vkt )
Disamping memiliki beberapa persaamaan kosa kata dengan bahasa Banjar, Bahasa Kutai juga memiliki persamaan kosa kata dengan bahasa Iban, misalnya :
* nade (Bahasa Kutai Kota Bangun); nadai (Bahasa Kantu'), artinya tidak
* celap (Bahsa Kutai Tenggarong; celap (Bahasa Dayak Iban, Bahasa Tunjung), jelap (Bahasa
Benuaq) artinya dingin
* balu (Bahasa Kutai Tenggarong), balu (Bahasa Iban, balu' Bahasa Benuaq), artinya janda
* hek (Bahasa Kutai Tenggarong), he' (Bahasa Tunjung), artinya tidak
Menurut kepercayaan penduduk, daerah Kutai dulunya dihuni oleh 5 puak, yaitu:
* Kelompok Suku Melayu
Puak Pantun, Punang dan Melani tumbuh dan berkembang menjadi suku Kutai yang memiliki bahasa sama namun beda dialek. Dengan demikian suku Kutai adalah suku asli daerah ini. Selanjutnya secara bergelombang berdatangan suku Banjar dan Bugis, sehingga kelompok suku Melayu yang mendiami daerah Kutai terdiri atas suku Kutai, Banjar dan Bugis.
* Kelompok Suku Dayak
Keturunan Puak Tulur Dijangkat tumbuh dan berkembang menjadi suku Dayak. Mereka berpencar meninggalkan tanah aslinya dan membentuk kelompok suku masing-masing yang sekarang dikenal sebagai suku Dayak Tunjung, Bahau, Benuaq, Modang, Penihing, Busang, Bukat, Ohong dan Bentian.
Suku Kutai adalah suku asli di kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Kebudayaan Kutai berawal sejak berdirinya Kerajaan Kutai pada abad IV yang merupakan kerajaan Hindu pertama di Nusantara dengan rajanya yang terkenal, Mulawarman.
Kemudian berlanjut dengan Kesultanan Kutai dengan sultan terakhir Aji Parikesit. Setelah kekosongan yang lama telah diadakan penabalan sultan baru yaitu Aji Muhammad Salehuddin II.
Suku Kutai terdiri atas 4 sub-etnis yaitu :
1. Kutai Tenggarong di Tenggarong, Kutai Kartanegara
2. Kutai Kota Bangun di Kota Bangun, Kutai Kartanegara
3. Kutai Muara Ancalong di Muara Ancalong, Kutai Timur
4. Kutai Muara Pahu di Muara Pahu, Kutai Barat
Menurut situs "Joshua Project" suku Melayu Kutai Tenggarong berjumlah 314.000 jiwa.
Suku Kutai lainnya adalah Melayu Kutai Kota Bangun. Menurut situs "Joshua Project" suku Melayu Kutai Kota Bangun berjumlah 81.000 jiwa.
Bahasa Kutai terbagi ke dalam 3 dialek yang letaknya tidak saling berdekatan :
1. Kutai Tenggarong ( vkt )
2. Kutai Kota Bangun ( mqg )
3. Kutai Muara Ancalong ( vkt )
Disamping memiliki beberapa persaamaan kosa kata dengan bahasa Banjar, Bahasa Kutai juga memiliki persamaan kosa kata dengan bahasa Iban, misalnya :
* nade (Bahasa Kutai Kota Bangun); nadai (Bahasa Kantu'), artinya tidak
* celap (Bahsa Kutai Tenggarong; celap (Bahasa Dayak Iban, Bahasa Tunjung), jelap (Bahasa
Benuaq) artinya dingin
* balu (Bahasa Kutai Tenggarong), balu (Bahasa Iban, balu' Bahasa Benuaq), artinya janda
* hek (Bahasa Kutai Tenggarong), he' (Bahasa Tunjung), artinya tidak
Menurut kepercayaan penduduk, daerah Kutai dulunya dihuni oleh 5 puak, yaitu:
- Puak Pantun yang tinggal di sekitar Muara Ancalong, Kutai Timur dan Muara Kaman, Kutai Kartanegara
- Puak Punang yang tinggal di sekitar Muara Muntai, Kutai Kartanegara dan Kota Bangun
- Puak Pahu yang mendiami daerah sekitar Muara Pahu, Kutai Barat
- Puak Tulur Dijangkat yang mendiami daerah sekitar Barong Tongkok, Kutai Barat dan Melak, Kutai Barat
- Puak Melani yang mendiami daerah sekitar Kutai Lama dan Tenggarong
* Kelompok Suku Melayu
Puak Pantun, Punang dan Melani tumbuh dan berkembang menjadi suku Kutai yang memiliki bahasa sama namun beda dialek. Dengan demikian suku Kutai adalah suku asli daerah ini. Selanjutnya secara bergelombang berdatangan suku Banjar dan Bugis, sehingga kelompok suku Melayu yang mendiami daerah Kutai terdiri atas suku Kutai, Banjar dan Bugis.
* Kelompok Suku Dayak
Keturunan Puak Tulur Dijangkat tumbuh dan berkembang menjadi suku Dayak. Mereka berpencar meninggalkan tanah aslinya dan membentuk kelompok suku masing-masing yang sekarang dikenal sebagai suku Dayak Tunjung, Bahau, Benuaq, Modang, Penihing, Busang, Bukat, Ohong dan Bentian.
- Suku Tunjung mendiami daerah kecamatan Melak, Kutai Barat, Barong Tongkok, Kutai Barat dan Muara Pahu, Kutai Barat
- Suku Bahau mendiami daerah kecamatan Long Iram, Kutai Barat dan Long Bagun, Kutai Barat
- Suku Benuaq mendiami daerah kecamatan Jempang, Kutai Barat, Muara Lawa, Kutai Barat, Damai, Kutai Barat dan Muara Pahu, Kutai Barat
- Suku Modang mendiami daerah kecamatan Muara Ancalong, Kutai Timur dan Muara Wahau, Kutai Timur
- Suku Penihing, suku Bukat dan suku Ohong mendiami daerah kecamatan Long Apari, Kutai Barat
- Suku Busang mendiami daerah kecamatan Long Pahangai, Kutai Barat
- Suku Bentian mendiami daerah kecamatan Bentian Besar, Kutai Barat dan Muara Lawa, Kutai Barat
Dayak Wehea
http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Wehea
Suku Wehea atau Dayak Wehea adalah suku Dayak yang mendiami enam desa di kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur terutama Desa Nehes Liah Bing dengan Kepala Adat dipimpin oleh Ledjie Taq. Suku Wehea menjaga hutan lindung yaitu Hutan Lindung Wehea. "Keldung Laas Wehea Long Skung Metgueen." Deretan kata dalam bahasa Dayak Wehea itu berarti sebuah aturan: perlindungan dan pemanfaatan terbatas hutan Wehea. Adalah Ladjie Taq, kepala adat suku Wehea, bersama beberapa tokoh adat Wehea lainnya yang menetapkan aturan itu sejak tahun 2005. Dengan itu, hutan seluas 38.000 hektare yang terletak di Muara Wahau, Kutai Timur, Kalimantan Timur, tersebut resmi menjadi kawasan hutan lindung yang dijaga secara adat oleh masyarakat Dayak Wehea. Desa Nehes Liah Bing dihuni oleh suku Dayak Wehea, yang merupakan suku tertua di aliran Sungai Wehea, atau yang sekarang lebih dikenal dengan Sungai Wahau karena kata "Wehea" sulit diucapkan oleh orang luar.
Suku Wehea atau Dayak Wehea adalah suku Dayak yang mendiami enam desa di kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur terutama Desa Nehes Liah Bing dengan Kepala Adat dipimpin oleh Ledjie Taq. Suku Wehea menjaga hutan lindung yaitu Hutan Lindung Wehea. "Keldung Laas Wehea Long Skung Metgueen." Deretan kata dalam bahasa Dayak Wehea itu berarti sebuah aturan: perlindungan dan pemanfaatan terbatas hutan Wehea. Adalah Ladjie Taq, kepala adat suku Wehea, bersama beberapa tokoh adat Wehea lainnya yang menetapkan aturan itu sejak tahun 2005. Dengan itu, hutan seluas 38.000 hektare yang terletak di Muara Wahau, Kutai Timur, Kalimantan Timur, tersebut resmi menjadi kawasan hutan lindung yang dijaga secara adat oleh masyarakat Dayak Wehea. Desa Nehes Liah Bing dihuni oleh suku Dayak Wehea, yang merupakan suku tertua di aliran Sungai Wehea, atau yang sekarang lebih dikenal dengan Sungai Wahau karena kata "Wehea" sulit diucapkan oleh orang luar.
Dayak Kayan
http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Kayan
Suku Kayan adalah suku Dayak dari rumpun Kenyah-Kayan-Bahau yang berasal dari Sarawak. Ketika memasuki Kalimantan Timur suku Kayan pertama-tama menetap di daerah Apau Kayan di daerah aliran sungai Kayan, karena alasan perang antar suku dan mencari daerah yang lebih subur serta daerah asal (Apo Kayan) yang sangat tertinggal dan terisolir, suku Kayan meninggalkan Apo Kayan yang telah mereka tempati selama 300 tahun dan bermigrasi menuju daerah-daerah yang lebih maju agar dapat lebih berkembang kehidupannya, yaitu sekarang menetap di daerah aliran sungai Wahau (daerah Suku Wehea) di Kabupaten Kutai Timur terutama di Desa Miau Baru sejak tahun 1964. Diperkirakan pada zaman Kerajaan Kutai Martadipura (Kutai Mulawarman), suku Kayan belum memasuki Kalimantan Timur. Kemungkinan suku Kayan ini termasuk salah satu suku yang belakangan memasuki pulau Kalimantan dari pulau Formosa (Taiwan). Suku Kayan juga terdapat di sungai Mendalam, Kalimantan Barat. Di Kalimantan Barat, pada sekitar tahun 1863, suku Iban bermigrasi ke daerah hulu sungai Saribas dan sungai Rejang, dan menyerang suku Kayan di daerah hulu sungai-sungai dan terus maju ke utara dan ke timur. Perang dan serangan pengayauan menyebabkan suku-suku lain terusir dari lahannya.
Suku Kayan adalah suku Dayak dari rumpun Kenyah-Kayan-Bahau yang berasal dari Sarawak. Ketika memasuki Kalimantan Timur suku Kayan pertama-tama menetap di daerah Apau Kayan di daerah aliran sungai Kayan, karena alasan perang antar suku dan mencari daerah yang lebih subur serta daerah asal (Apo Kayan) yang sangat tertinggal dan terisolir, suku Kayan meninggalkan Apo Kayan yang telah mereka tempati selama 300 tahun dan bermigrasi menuju daerah-daerah yang lebih maju agar dapat lebih berkembang kehidupannya, yaitu sekarang menetap di daerah aliran sungai Wahau (daerah Suku Wehea) di Kabupaten Kutai Timur terutama di Desa Miau Baru sejak tahun 1964. Diperkirakan pada zaman Kerajaan Kutai Martadipura (Kutai Mulawarman), suku Kayan belum memasuki Kalimantan Timur. Kemungkinan suku Kayan ini termasuk salah satu suku yang belakangan memasuki pulau Kalimantan dari pulau Formosa (Taiwan). Suku Kayan juga terdapat di sungai Mendalam, Kalimantan Barat. Di Kalimantan Barat, pada sekitar tahun 1863, suku Iban bermigrasi ke daerah hulu sungai Saribas dan sungai Rejang, dan menyerang suku Kayan di daerah hulu sungai-sungai dan terus maju ke utara dan ke timur. Perang dan serangan pengayauan menyebabkan suku-suku lain terusir dari lahannya.
Dayak Iban
http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Iban
Suku Iban atau Suku Dayak Iban, adalah salah satu rumpun suku Dayak yang terdapat di Kalimantan Barat, Sarawak dan Brunei. Selama masa kolonial Inggris, kelompok Dayak Iban sebelumnya dikenal sebagai Dayak Laut (bahasa Inggris:Sea Dayak).
Suku-suku yang termasuk rumpun Iban (Ibanic) dengan kode bahasa : IBA, diantaranya :
1. Suku Iban di Kalimantan Barat ber-Bahasa Dayak Iban(kode bahasa : IBA)
2. Suku Iban di Sarawak, Malaysia(kode bahasa : IBA)
3. Suku Iban di Brunei (Persatuan Iban Brunei)(kode bahasa : IBA)
4. Suku Mualang (kode bahasa : MTD)
5. Suku Seberuang (Sintang), (kode bahasa : SBX)
6. Suku Melanau (kode bahasa : IBA)
7. Suku Kantuk (kode bahasa : IBA)
8. Suku Bugau (kode bahasa : IBA)
9. Suku Desa (kode bahasa : IBA)
10. Suku Ketungau di (Ketungau Hulu, Sintang) (kode bahasa : IBA)
11. Suku Batang Lupar (Batang Lupar, Kapuas Hulu) (kode bahasa : IBA)
Suku Iban atau Suku Dayak Iban, adalah salah satu rumpun suku Dayak yang terdapat di Kalimantan Barat, Sarawak dan Brunei. Selama masa kolonial Inggris, kelompok Dayak Iban sebelumnya dikenal sebagai Dayak Laut (bahasa Inggris:Sea Dayak).
Suku-suku yang termasuk rumpun Iban (Ibanic) dengan kode bahasa : IBA, diantaranya :
1. Suku Iban di Kalimantan Barat ber-Bahasa Dayak Iban(kode bahasa : IBA)
2. Suku Iban di Sarawak, Malaysia(kode bahasa : IBA)
3. Suku Iban di Brunei (Persatuan Iban Brunei)(kode bahasa : IBA)
4. Suku Mualang (kode bahasa : MTD)
5. Suku Seberuang (Sintang), (kode bahasa : SBX)
6. Suku Melanau (kode bahasa : IBA)
7. Suku Kantuk (kode bahasa : IBA)
8. Suku Bugau (kode bahasa : IBA)
9. Suku Desa (kode bahasa : IBA)
10. Suku Ketungau di (Ketungau Hulu, Sintang) (kode bahasa : IBA)
11. Suku Batang Lupar (Batang Lupar, Kapuas Hulu) (kode bahasa : IBA)
Dayak Abal
http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Abal
Suku Abal atau Dayak Abal adalah salah satu kelompok suku Dayak yang berdiam di Desa Halong Dalam, Desa Aong, dan Desa Suput. Ketiga desa ini merupakan bagian wilayah administratif Kecamatan Haruai, Tabalong, Propinsi Kalimantan Selatan. Kecamatan Haruai yang luasnya 861,27 km2 pada tahun 1990 berpenduduk 21.948 jiwa, namun tidak tersedia data jumlah orang Dayak Abal di antara jumlah tersebut. Orang Abal ini mempunyai bahasa sendiri yakni bahasa Abal. Antara sesamanya mereka menggunakan bahasa Abal sebagai bahasa ibu, namun dengan orang luar misalnya dengan orang Banjar, atau Dayak Maanyan, Dayak Dusun Deyah yang penduduk asal di kabupaten ini, mereka menggunakan bahasa Banjar sebagai bahasa pengantar. Pengaruh orang Banjar menyebabkan mereka telah lama memeluk agama Islam, dan asimilasi dengan orang Banjar ini terjadi sedemikian rupa sehingga budaya lama mereka sendiri sudah hampir-hampir punah. Seperti penduduk Kabupaten Tabalong umumnya, mereka hidup dari sektor pertanian dan hasil hutan.
Bahasa Abal
Bahasa Abal merupakan bahasa yang berada diambang kepunahan, karena hanya segilintir orang-orang tua saja yang masih menggunakan bahasa tersebut, sedangkan generasi muda suku Abal lebih menggunakan bahasa daerah lainnya.
Suku Abal atau Dayak Abal adalah salah satu kelompok suku Dayak yang berdiam di Desa Halong Dalam, Desa Aong, dan Desa Suput. Ketiga desa ini merupakan bagian wilayah administratif Kecamatan Haruai, Tabalong, Propinsi Kalimantan Selatan. Kecamatan Haruai yang luasnya 861,27 km2 pada tahun 1990 berpenduduk 21.948 jiwa, namun tidak tersedia data jumlah orang Dayak Abal di antara jumlah tersebut. Orang Abal ini mempunyai bahasa sendiri yakni bahasa Abal. Antara sesamanya mereka menggunakan bahasa Abal sebagai bahasa ibu, namun dengan orang luar misalnya dengan orang Banjar, atau Dayak Maanyan, Dayak Dusun Deyah yang penduduk asal di kabupaten ini, mereka menggunakan bahasa Banjar sebagai bahasa pengantar. Pengaruh orang Banjar menyebabkan mereka telah lama memeluk agama Islam, dan asimilasi dengan orang Banjar ini terjadi sedemikian rupa sehingga budaya lama mereka sendiri sudah hampir-hampir punah. Seperti penduduk Kabupaten Tabalong umumnya, mereka hidup dari sektor pertanian dan hasil hutan.
Bahasa Abal
Bahasa Abal merupakan bahasa yang berada diambang kepunahan, karena hanya segilintir orang-orang tua saja yang masih menggunakan bahasa tersebut, sedangkan generasi muda suku Abal lebih menggunakan bahasa daerah lainnya.
Dayak Rumpun Punan
http://id.wikipedia.org/wiki/Rumpun_Punan
Rumpun Punan adalah salah satu rumpun suku Dayak yang terdapat di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur. Suku-suku Dayak yang termasuk rumpun Punan diantaranya :
1. Suku Hovongan di Kapuas Hulu, Kalbar (kode bahasa : HOV)
2. Suku Uheng Kereho di Kapuas Hulu, Kalbar (kode bahasa : XKE)
3. Suku Punan Murung di Murung Raya, Kalteng (kode bahasa : )
4. Suku Aoheng (Suku Penihing) di Kalimantan Timur (kode bahasa : PNI )
5. Suku Punan Merah (Siau) (kode bahasa : PUF)
6. Suku Punan Aput (kode bahasa : PUD )
7. Suku Merap (kode bahasa : PUC )
8. Suku Punan Tubu (kode bahasa : PUJ )
9. Suku Ukit/Suku Bukitan/Suku Beketan (kode bahasa : BKN )
10. Suku Bukat (kode bahasa : BVK )
11. Suku Punan Habongkot (kode bahasa : )
12. Suku Panyawung (kode bahasa : )
13. Suku Punan Kelay di Sungai Kelay, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur
Punan Murung
Suku Dayak Punan di Kalimantan Tengah terdapat di perhuluan sungai Barito yaitu di Kabupaten Murung Raya yang dikenal sebagai Suku Dayak Punan Murung. Kebanyakan suku-suku Dayak di Kalimantan Tengah termasuk rumpun Ot Danum kecuali suku Dayak Punan Murung.
Punan Hovongan
Dayak Punan merupakan salah satu subsuku Dayak yang mendiami perhuluan Sungai Kapuas. Etnis yang dulunya merupakan bangsa nomaden, kini lebih menetap dan mempraktekan sistem pertanian gilir balik (berladang). Sub etnis dayak Punan yang mendiami perhuluan Sungai Hovongan (Bungan), anak sungai Kapuas yang terdiri dari beberapa kampung:
1. Nanga Lapung
2. Nanga Bungan
3. Tanjung Lokang
4. Belatung (sebagian)
5. Hovo'ung (sebagian)
Kepala Adat
Kelompok ini mempunyai seorang Temenggung yaitu "Akek Dalung Tapa" (*baru meninggal dunia akhir bulan juni 2009) dan sekarang digantikan oleh putra bungsunya yaitu Temenggung Abang Dalung (2009)
* Temenggung dan Kepala adat mempunyai peran yang berbeda, Kepala adat lebih kepada adat istiadat sedangkan Temenggung mempunyai peran penting dalam kedaulatan wilayah ketemenggungan.
Bahasa Hovongan
Kode Bahasa Hovongan adalah HOV
Punan Uheng Kereho
Yaitu sub suku Punan yang mendiami perhuluan sungai Kapuas dan Sungai keriau/Kereho sub ini terdiri dari beberapa kampung:
1. Nanga Enap
2. Nanga Erak
3. Nanga Balang
4. Sepan
5. Salin
6. Bu'ung (sebagian)
7. Belatung (sebagian)
Bahasa Uheng Kereho
Kode Bahasa Uheng Kereho adalah xke
Daerah ketemenggungan Dayak Punan ini dapat dijangkau dengan menggunakan transportasi sungai dari Putussibau dengan biaya sewa speed boat bervariasi dari satu juta sampai tiga juta lima ratus ribu rupiah. Sumber daya alamnya masih melimpah ruah; seperti sarang burung walet dan kekayaan pertambangan lainnya. Akan tetapi karena terlalu jauhnya wilayah ini, banyak dari masyarakat suku ini terisolasi dari dunia luar sehingga tingkat perekonomian serta pendidikan sampai sekarang dalam tingkat yang mengkhawatirkan.
Di setiap kampung-kampung orang Punan anak yang bersekolah hingga menamatkan pendidikan dasar dapat dihitung dangan jari, apalagi yang menamatkan bangku kuliah.
Punan Kelay
Dayak Punan Hulu Kelay mendiami hulu sungai Kelay, Kabupaten Berau, Kaltim terdiri :
1. Kampung Long Suluy
2. Kampung Long Lamcin
3. Kampung Long Lamjan
4. Kampung Long Keluh
5. Kampung Long Duhung
6. Kampung Long Beliu
Rumpun Punan adalah salah satu rumpun suku Dayak yang terdapat di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur. Suku-suku Dayak yang termasuk rumpun Punan diantaranya :
1. Suku Hovongan di Kapuas Hulu, Kalbar (kode bahasa : HOV)
2. Suku Uheng Kereho di Kapuas Hulu, Kalbar (kode bahasa : XKE)
3. Suku Punan Murung di Murung Raya, Kalteng (kode bahasa : )
4. Suku Aoheng (Suku Penihing) di Kalimantan Timur (kode bahasa : PNI )
5. Suku Punan Merah (Siau) (kode bahasa : PUF)
6. Suku Punan Aput (kode bahasa : PUD )
7. Suku Merap (kode bahasa : PUC )
8. Suku Punan Tubu (kode bahasa : PUJ )
9. Suku Ukit/Suku Bukitan/Suku Beketan (kode bahasa : BKN )
10. Suku Bukat (kode bahasa : BVK )
11. Suku Punan Habongkot (kode bahasa : )
12. Suku Panyawung (kode bahasa : )
13. Suku Punan Kelay di Sungai Kelay, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur
Punan Murung
Suku Dayak Punan di Kalimantan Tengah terdapat di perhuluan sungai Barito yaitu di Kabupaten Murung Raya yang dikenal sebagai Suku Dayak Punan Murung. Kebanyakan suku-suku Dayak di Kalimantan Tengah termasuk rumpun Ot Danum kecuali suku Dayak Punan Murung.
Punan Hovongan
Dayak Punan merupakan salah satu subsuku Dayak yang mendiami perhuluan Sungai Kapuas. Etnis yang dulunya merupakan bangsa nomaden, kini lebih menetap dan mempraktekan sistem pertanian gilir balik (berladang). Sub etnis dayak Punan yang mendiami perhuluan Sungai Hovongan (Bungan), anak sungai Kapuas yang terdiri dari beberapa kampung:
1. Nanga Lapung
2. Nanga Bungan
3. Tanjung Lokang
4. Belatung (sebagian)
5. Hovo'ung (sebagian)
Kepala Adat
Kelompok ini mempunyai seorang Temenggung yaitu "Akek Dalung Tapa" (*baru meninggal dunia akhir bulan juni 2009) dan sekarang digantikan oleh putra bungsunya yaitu Temenggung Abang Dalung (2009)
* Temenggung dan Kepala adat mempunyai peran yang berbeda, Kepala adat lebih kepada adat istiadat sedangkan Temenggung mempunyai peran penting dalam kedaulatan wilayah ketemenggungan.
Bahasa Hovongan
Kode Bahasa Hovongan adalah HOV
Punan Uheng Kereho
Yaitu sub suku Punan yang mendiami perhuluan sungai Kapuas dan Sungai keriau/Kereho sub ini terdiri dari beberapa kampung:
1. Nanga Enap
2. Nanga Erak
3. Nanga Balang
4. Sepan
5. Salin
6. Bu'ung (sebagian)
7. Belatung (sebagian)
Bahasa Uheng Kereho
Kode Bahasa Uheng Kereho adalah xke
Daerah ketemenggungan Dayak Punan ini dapat dijangkau dengan menggunakan transportasi sungai dari Putussibau dengan biaya sewa speed boat bervariasi dari satu juta sampai tiga juta lima ratus ribu rupiah. Sumber daya alamnya masih melimpah ruah; seperti sarang burung walet dan kekayaan pertambangan lainnya. Akan tetapi karena terlalu jauhnya wilayah ini, banyak dari masyarakat suku ini terisolasi dari dunia luar sehingga tingkat perekonomian serta pendidikan sampai sekarang dalam tingkat yang mengkhawatirkan.
Di setiap kampung-kampung orang Punan anak yang bersekolah hingga menamatkan pendidikan dasar dapat dihitung dangan jari, apalagi yang menamatkan bangku kuliah.
Punan Kelay
Dayak Punan Hulu Kelay mendiami hulu sungai Kelay, Kabupaten Berau, Kaltim terdiri :
1. Kampung Long Suluy
2. Kampung Long Lamcin
3. Kampung Long Lamjan
4. Kampung Long Keluh
5. Kampung Long Duhung
6. Kampung Long Beliu
Label:
Aoheng,
Beketan,
bukat,
Dayak,
Habongkot,
Merap,
Panyawung,
Penihing,
Punan,
Punan Aput,
Punan Kelay,
Punan Merah,
Punan Murung,
Punan Tubu,
Siau,
Uheng Kereho,
Ukit
Dayak Bahau
http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Bahau
Suku Bahau/Dayak Bahau adalah suku bangsa yang terdapat di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.
Suku ini mendiami daerah kecamatan :
1. Long Iram, Kutai Barat
2. Long Bagun, Kutai Barat
Bahasa Bahau
Bahasa Bahau simbolnya "bhv".
Silsilah Bahasa Kayan-Murik
1. Kayan-Murik (17 bahasa)
1. Bahasa Kayan(Suku Kayan) :
1. Bahasa Bahau(bhv) :(Suku Bahau di Kutai Barat, Kalimantan Timur)
2. Dialek Kayan Busang [bfg] : (Suku Busang, di Kutai Barat, Kalimantan Timur
3. Dialek Kayan Wahau [whu] : (Suku Kayan Wahau di Muara Wahau, Kutai
Timur, Kalimantan Timur)
4. Dialek Kayan Mahakam [xay] : (Suku Kayan Mahakam di Kutai Barat, Kalimantan
Timur)
5. Dialek Kayan Sungai Kayan [xkn] : Suku Kayan Sungai Kayan di (Malinau,
Kalimantan Timur)
6. Dialek Kayan Baram [KYS] : Suku Kayan Baram, (Sarawak)
7. Dialek Kayan Rejang [REE] : Suku Kayan Rejang (Sarawak)
8. Dialek Kayan Mendalam[XKD] : Suku Kayan Mendalam di (Kapuas Hulu,
Kalimantan Barat)
2. Modang :
1. Bahasa Modang [mxd] : (Suku Modang di Kutai Barat, Kalimantan Timur)
2. Bahasa Segai [sge] : (Berau, Kalimantan Timur)
3. Punan Muller-Schwaner :
1. Bahasa Aoheng [pni] : (Suku Aoheng/Suku Penihing di Kutai Barat, Kalimantan
Timur)
2. Bahasa Punan Aput [pud] : (Kalimantan Timur)
3. Bahasa Punan Merah [puf] : (Kalimantan Timur)
4. Bahasa Uheng-Kereho [xke] : Suku Punan Uheng-Kereho di (Kapuas Hulu,
Kalimantan Barat)
5. Bahasa Bukat [BVK] : (Suku Bukat di Kutai Barat, Kalimantan Timur)
6. Bahasa Hovongan [HOV] : Suku Punan Hovongan di (Kapuas Hulu, Kalimantan
Barat)
4. Murik
1. Dialek Kayan Murik [MXR] : Suku Kayan Murik di (Sarawak)
Suku Bahau/Dayak Bahau adalah suku bangsa yang terdapat di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.
Suku ini mendiami daerah kecamatan :
1. Long Iram, Kutai Barat
2. Long Bagun, Kutai Barat
Bahasa Bahau
Bahasa Bahau simbolnya "bhv".
Silsilah Bahasa Kayan-Murik
1. Kayan-Murik (17 bahasa)
1. Bahasa Kayan(Suku Kayan) :
1. Bahasa Bahau(bhv) :(Suku Bahau di Kutai Barat, Kalimantan Timur)
2. Dialek Kayan Busang [bfg] : (Suku Busang, di Kutai Barat, Kalimantan Timur
3. Dialek Kayan Wahau [whu] : (Suku Kayan Wahau di Muara Wahau, Kutai
Timur, Kalimantan Timur)
4. Dialek Kayan Mahakam [xay] : (Suku Kayan Mahakam di Kutai Barat, Kalimantan
Timur)
5. Dialek Kayan Sungai Kayan [xkn] : Suku Kayan Sungai Kayan di (Malinau,
Kalimantan Timur)
6. Dialek Kayan Baram [KYS] : Suku Kayan Baram, (Sarawak)
7. Dialek Kayan Rejang [REE] : Suku Kayan Rejang (Sarawak)
8. Dialek Kayan Mendalam[XKD] : Suku Kayan Mendalam di (Kapuas Hulu,
Kalimantan Barat)
2. Modang :
1. Bahasa Modang [mxd] : (Suku Modang di Kutai Barat, Kalimantan Timur)
2. Bahasa Segai [sge] : (Berau, Kalimantan Timur)
3. Punan Muller-Schwaner :
1. Bahasa Aoheng [pni] : (Suku Aoheng/Suku Penihing di Kutai Barat, Kalimantan
Timur)
2. Bahasa Punan Aput [pud] : (Kalimantan Timur)
3. Bahasa Punan Merah [puf] : (Kalimantan Timur)
4. Bahasa Uheng-Kereho [xke] : Suku Punan Uheng-Kereho di (Kapuas Hulu,
Kalimantan Barat)
5. Bahasa Bukat [BVK] : (Suku Bukat di Kutai Barat, Kalimantan Timur)
6. Bahasa Hovongan [HOV] : Suku Punan Hovongan di (Kapuas Hulu, Kalimantan
Barat)
4. Murik
1. Dialek Kayan Murik [MXR] : Suku Kayan Murik di (Sarawak)
Dayak Ot Danum
http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Dayak_Ot_Danum
Suku Dayak Ot Danum atau Dayak Dohoi adalah suku asli Kalimantan Tengah yang terdapat di hulu-hulu sungai sebelah utara provinsi ini
Suku Dayak Ot Danum atau Dayak Dohoi adalah suku asli Kalimantan Tengah yang terdapat di hulu-hulu sungai sebelah utara provinsi ini
Dayak Lawangan
http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Lawangan
Suku Lawangan merupakan salah satu dari suku-suku Dusun (Kelompok Barito bagian Timur) sehingga disebut juga Dusun Lawangan. Suku-suku Dusun termasuk golongan sukubangsa Dayak rumpun Ot Danum sehingga disebut juga Dayak Lawangan. Suku Lawangan menempati bagian timur Kalimantan Tengah.
Menurut situs "Joshua Project" suku Lawangan berjumlah 109.000 jiwa.
Organisasi suku ini adalah "Dusmala" yang menggabungkan 3 suku Dayak yaitu Dusun, Maanyan dan Lawangan".
Subetnis suku Dayak Lawangan adalah
1. Suku Dayak Benuaq
2. Suku Dayak Bentian
3. Suku Dayak Bawo
4. Suku Dayak Tunjung
5. Suku Pasir
6. Suku Tawoyan (kedekatan bahasa 77%)
7. Suku Dusun Deyah (kedekatan bahasa 53%)
Suku Lawangan merupakan salah satu dari suku-suku Dusun (Kelompok Barito bagian Timur) sehingga disebut juga Dusun Lawangan. Suku-suku Dusun termasuk golongan sukubangsa Dayak rumpun Ot Danum sehingga disebut juga Dayak Lawangan. Suku Lawangan menempati bagian timur Kalimantan Tengah.
Menurut situs "Joshua Project" suku Lawangan berjumlah 109.000 jiwa.
Organisasi suku ini adalah "Dusmala" yang menggabungkan 3 suku Dayak yaitu Dusun, Maanyan dan Lawangan".
Subetnis suku Dayak Lawangan adalah
1. Suku Dayak Benuaq
2. Suku Dayak Bentian
3. Suku Dayak Bawo
4. Suku Dayak Tunjung
5. Suku Pasir
6. Suku Tawoyan (kedekatan bahasa 77%)
7. Suku Dusun Deyah (kedekatan bahasa 53%)
Dayak Dusun Malang
http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Dayak_Dusun_Malang
Suku Dayak Dusun Malang atau Suku Dayak Malang adalah suku Dayak dari rumpun Ot Danum (rumpun Barito Raya) yang mendiami sebelah barat Desa Muarainu, sebelah Timur Laut kota Muara Teweh yaitu di kecamatanLahei, Barito Utara, Kalimantan Tengah. Suku ini memiliki bahasa yang memiliki persamaan dengan bahasa suku dayak Maanyan (80%).
Suku Dayak Dusun Malang atau Suku Dayak Malang adalah suku Dayak dari rumpun Ot Danum (rumpun Barito Raya) yang mendiami sebelah barat Desa Muarainu, sebelah Timur Laut kota Muara Teweh yaitu di kecamatanLahei, Barito Utara, Kalimantan Tengah. Suku ini memiliki bahasa yang memiliki persamaan dengan bahasa suku dayak Maanyan (80%).
Dayak Tunjung
http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Tunjung
Suku Tunjung/Dayak Tunjung adalah suku bangsa yang terdapat di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.
Suku Tunjung mendiami daerah kecamatan :
1. Melak, Kutai Barat
2. Barong Tongkok, Kutai Barat
3. Muara Pahu, Kutai Barat
4. Desa Kelekat, Kembang Janggut, Kutai Kartanegara
5. Desa Bukit Layang, Kembang Janggut, Kutai Kartanegara
6. Desa Pulau Pinang, Kembang Janggut, Kutai Kartanegara
7. Desa Lamin Telihan, Kenohan, Kutai Kartanegara
8. Desa Teluk Bingkai, Kenohan, Kutai Kartanegara
9. Desa Lamin Pulut, Kenohan, Kutai Kartanegara
Tonyoy-Benuaq merupakan nama lain dari Tunjung-Benuaq. Kedua Suku Dayak ini merasa tidak terpisahkan baik dari segi sosial dan budaya. Namun sering pula disebutkan secara terpisah yaitu Suku Dayak Tunjung dan Suku Dayak Benuaq.
Paguyuban
Dewasa ini terdapat paguyuban/ormas untuk menyatukan kedua sub-etnis ini yaitu Sempekat Tonyoy-Benuaq (STB). STB juga merupakan anggota Persekutuan Dayak Kalimantan Timur (PDKT).
STA (sepekat tonyi ASA), gabungan sepuluh kampung dengan nama akhir asa seperti Balok Asa, Juhan Asa, Ngenyan Asa, Muara Asa, Pepas ASA, ..ASA.
dayak tunjung juga terbagi dua jenis.. ada yang di sebut Tunjung Tengah, suku tersebut berdomisili di barong tongkok dan memiliki logat sedikit keras. Sedangkan dayak Tunjung Pinggir atau di sebut juga Tunjung Rentenuk dengan domisili di kecamatan Linggang Bigung memiliki logat yang halus..
Organisasi Lain
Didaerah tunjung benuaq terdapat beberapa organisasi kepemudaan seperti:
Suku Tunjung/Dayak Tunjung adalah suku bangsa yang terdapat di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.
Suku Tunjung mendiami daerah kecamatan :
1. Melak, Kutai Barat
2. Barong Tongkok, Kutai Barat
3. Muara Pahu, Kutai Barat
4. Desa Kelekat, Kembang Janggut, Kutai Kartanegara
5. Desa Bukit Layang, Kembang Janggut, Kutai Kartanegara
6. Desa Pulau Pinang, Kembang Janggut, Kutai Kartanegara
7. Desa Lamin Telihan, Kenohan, Kutai Kartanegara
8. Desa Teluk Bingkai, Kenohan, Kutai Kartanegara
9. Desa Lamin Pulut, Kenohan, Kutai Kartanegara
Tonyoy-Benuaq merupakan nama lain dari Tunjung-Benuaq. Kedua Suku Dayak ini merasa tidak terpisahkan baik dari segi sosial dan budaya. Namun sering pula disebutkan secara terpisah yaitu Suku Dayak Tunjung dan Suku Dayak Benuaq.
Paguyuban
Dewasa ini terdapat paguyuban/ormas untuk menyatukan kedua sub-etnis ini yaitu Sempekat Tonyoy-Benuaq (STB). STB juga merupakan anggota Persekutuan Dayak Kalimantan Timur (PDKT).
STA (sepekat tonyi ASA), gabungan sepuluh kampung dengan nama akhir asa seperti Balok Asa, Juhan Asa, Ngenyan Asa, Muara Asa, Pepas ASA, ..ASA.
dayak tunjung juga terbagi dua jenis.. ada yang di sebut Tunjung Tengah, suku tersebut berdomisili di barong tongkok dan memiliki logat sedikit keras. Sedangkan dayak Tunjung Pinggir atau di sebut juga Tunjung Rentenuk dengan domisili di kecamatan Linggang Bigung memiliki logat yang halus..
Organisasi Lain
Didaerah tunjung benuaq terdapat beberapa organisasi kepemudaan seperti:
- KPADK (komando Pertahanan Adat Dayak Kalimantan)
- LPADKT ( Laskar Pertahanan Adat Dayak Kalimantan Timur)
- Pungawa
Dayak Seberuang
http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Seberuang
Suku Seberuang atau Dayak Seberuang adalah suku Dayak dari rumpun Iban yang terdapat di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.
Suku Dayak Seberuang dalam kelompok besar menetap di :
1. Kecamatan Sepauk, Sintang
2. Kecamatan Tempunak, Sintang
Suku Dayak Seberuang merupakan suatu kelompok suku Ibanik Group yang merupakan salah satu mayoritas suku yang mendiami wilayah di Kabupaten Sintang.
Menurut Sejarah, raja yang pertama memerintah di kerajaan Sintang berasal dari hulu sungai Sepauk tepatnya di daerah bukit Kujau di Hulu sungai Sepauk dan Tempunak. Selain suku Dayak Seberuang, di daerah Sepauk khususnya berdiam pula suku Dayak Sekujam dan suku Dayak Sekubang. Kedua suku Dayak ini diyakini menetap lebih awal dikawasan ini yang kemudian karena ada perpindahan secara berkelompok oleh suku Dayak Seberuang yang berasal dari Tampun Juah maka hampir seluruh kawasan di sepanjang sungai Sepauk dan sungai Tempunak ditempati oleh orang Dayak Seberuang. Selain itu, Seberuang juga merujuk pada satu kecamatan yang berada di kabupaten Kapuas Hulu yaitu Seberuang, Kapuas Hulu.
Suku Seberuang atau Dayak Seberuang adalah suku Dayak dari rumpun Iban yang terdapat di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.
Suku Dayak Seberuang dalam kelompok besar menetap di :
1. Kecamatan Sepauk, Sintang
2. Kecamatan Tempunak, Sintang
Suku Dayak Seberuang merupakan suatu kelompok suku Ibanik Group yang merupakan salah satu mayoritas suku yang mendiami wilayah di Kabupaten Sintang.
Menurut Sejarah, raja yang pertama memerintah di kerajaan Sintang berasal dari hulu sungai Sepauk tepatnya di daerah bukit Kujau di Hulu sungai Sepauk dan Tempunak. Selain suku Dayak Seberuang, di daerah Sepauk khususnya berdiam pula suku Dayak Sekujam dan suku Dayak Sekubang. Kedua suku Dayak ini diyakini menetap lebih awal dikawasan ini yang kemudian karena ada perpindahan secara berkelompok oleh suku Dayak Seberuang yang berasal dari Tampun Juah maka hampir seluruh kawasan di sepanjang sungai Sepauk dan sungai Tempunak ditempati oleh orang Dayak Seberuang. Selain itu, Seberuang juga merujuk pada satu kecamatan yang berada di kabupaten Kapuas Hulu yaitu Seberuang, Kapuas Hulu.
Dayak Kebahan
http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Dayak_Kebahan
Suku Dayak Kebahan awalnya berasal dari Tanjung Bunga (Angus), Kayan kabupaten Sintang yang kemudian menyebar kedaerah pedalaman yang sekarang masuk di kabupaten Melawi antara lain desa Engkurai, Jaba, Poring, Nusa Kenyikap (lintah) dan Kayu Bunga. Suku Dayak Kebahan pesisir sungai Melawi dan sungai Pinoh (Kampung Liang, Kelakik, Tekelak, Tanjung Lai dll) memeluk agama Islam dan sampai saat ini Dayak Kebahan yang beragama Islam menganggap dirinya Melayu. jadi Dayak Kebahan yang memeluk agama Islam sekitar 60%, 40% sisanya Kristen dan Katolik. Ciri khas dari Dayak ini nampak dalam Gawai Dayak, khususnya waktu makan bersama di rumah Betang suku ini menyebutnya "berontang panjang" . berontang panjang ialah makan bersama dengan makanan yang disusun lurus panjang seperti huruf 'i" dibaringkan dan semua penduduk makan berhadap-hadapan. Tentunya beralaskan layan dan lampit (tikar yang dianyam).
Suku Dayak Kebahan awalnya berasal dari Tanjung Bunga (Angus), Kayan kabupaten Sintang yang kemudian menyebar kedaerah pedalaman yang sekarang masuk di kabupaten Melawi antara lain desa Engkurai, Jaba, Poring, Nusa Kenyikap (lintah) dan Kayu Bunga. Suku Dayak Kebahan pesisir sungai Melawi dan sungai Pinoh (Kampung Liang, Kelakik, Tekelak, Tanjung Lai dll) memeluk agama Islam dan sampai saat ini Dayak Kebahan yang beragama Islam menganggap dirinya Melayu. jadi Dayak Kebahan yang memeluk agama Islam sekitar 60%, 40% sisanya Kristen dan Katolik. Ciri khas dari Dayak ini nampak dalam Gawai Dayak, khususnya waktu makan bersama di rumah Betang suku ini menyebutnya "berontang panjang" . berontang panjang ialah makan bersama dengan makanan yang disusun lurus panjang seperti huruf 'i" dibaringkan dan semua penduduk makan berhadap-hadapan. Tentunya beralaskan layan dan lampit (tikar yang dianyam).
Dayak Siang Murung
http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Dayak_Siang_Murung
Suku Siang atau Dayak Siang Murung adalah suku asli di kabupaten Murung Raya, bagian timur laut provinsi Kalimantan Tengah.
Menurut situs "Joshua Project" suku Siang berjumlah 80.000 jiwa.
Suku Siang atau Dayak Siang Murung adalah suku asli di kabupaten Murung Raya, bagian timur laut provinsi Kalimantan Tengah.
Menurut situs "Joshua Project" suku Siang berjumlah 80.000 jiwa.
Dayak Ngaju
http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Ngaju
Suku Ngaju atau Dayak Ngaju (Biadju) adalah suku asli di Kalimantan Tengah. Menurut situs "Joshua Project" suku Ngaju berjumlah 253.000 jiwa.
Suku Ngaju atau Dayak Ngaju (Biadju) adalah suku asli di Kalimantan Tengah. Menurut situs "Joshua Project" suku Ngaju berjumlah 253.000 jiwa.
Suku Besar Dayak Lawangan
http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Besar_Dayak_Lawangan
Suku Besar Dayak Lawangan adalah Suku Besar yang menggabungkan beberapa suku Dayak dari Rumpun Ot Danum yang memiliki kedekatan kebudayaan dan adat istiadat, yaitu
1. Suku Lawangan ( lbx )
2. Suku Pasir ( lbx )
3. Suku Benuaq ( lbx )
4. Suku Bentian ( lbx )
5. Suku Dayak Bawo ( lbx )
6. Suku Tunjung ( tjg )
Bahasa rumpun ini termasuk ke dalam bahasa Barito.
Suku Bentian adalah suku Dayak yang termasuk Suku Besar Dayak Lawangan, termasuk rumpun Ot Danum.
Suku Bentian mendiami kecamatan :
1. Bentian Besar, Kutai Barat, Kalimantan Timur
2. Muara Lawa, Kutai Barat, Kalimantan Timur
Bahasa Bentian (lbx)
Bahasa Bentian termasuk golongan bahasa Lawangan, jadi kode bahasanya sama yaitu lbx
Suku Besar Dayak Lawangan adalah Suku Besar yang menggabungkan beberapa suku Dayak dari Rumpun Ot Danum yang memiliki kedekatan kebudayaan dan adat istiadat, yaitu
1. Suku Lawangan ( lbx )
2. Suku Pasir ( lbx )
3. Suku Benuaq ( lbx )
4. Suku Bentian ( lbx )
5. Suku Dayak Bawo ( lbx )
6. Suku Tunjung ( tjg )
Bahasa rumpun ini termasuk ke dalam bahasa Barito.
Suku Bentian adalah suku Dayak yang termasuk Suku Besar Dayak Lawangan, termasuk rumpun Ot Danum.
Suku Bentian mendiami kecamatan :
1. Bentian Besar, Kutai Barat, Kalimantan Timur
2. Muara Lawa, Kutai Barat, Kalimantan Timur
Bahasa Bentian (lbx)
Bahasa Bentian termasuk golongan bahasa Lawangan, jadi kode bahasanya sama yaitu lbx
Dayak Dusun Witu
http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Dayak_Dusun_Witu
Suku Dayak Dusun Witu adalah suku Dayak dari rumpun Ot Danum yang mendiami Buntok Kecil dan Desa Pendang ibukota kecamatan Dusun Utara, Barito Selatan, Kalimantan Tengah.
Bahasa Dusun Witu
Dusun Witu (duq) adalah bahasa selatan dituturkan di Borneo Kalimantan, Indonesia.
Salah satu dialek ialah Dusun Pepas.
Bahasa ini dianggap terancam. Bilangan orang yang menuturnya jatuh daripada 25,000 pada tahun 1981 ke 5,000 pada tahun 2003.
Kosakata
Sekitar 75% dari kosakata secara kasar setara dengan bahasa Maanyan, dengan 73% dari bahasa Paku. Kedua bahasa tersebut sangat terkait dengan Dusun Witu.
Suku Dayak Dusun Witu adalah suku Dayak dari rumpun Ot Danum yang mendiami Buntok Kecil dan Desa Pendang ibukota kecamatan Dusun Utara, Barito Selatan, Kalimantan Tengah.
Bahasa Dusun Witu
Dusun Witu (duq) adalah bahasa selatan dituturkan di Borneo Kalimantan, Indonesia.
Salah satu dialek ialah Dusun Pepas.
Bahasa ini dianggap terancam. Bilangan orang yang menuturnya jatuh daripada 25,000 pada tahun 1981 ke 5,000 pada tahun 2003.
Kosakata
Sekitar 75% dari kosakata secara kasar setara dengan bahasa Maanyan, dengan 73% dari bahasa Paku. Kedua bahasa tersebut sangat terkait dengan Dusun Witu.
Dayak Kenyah
http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Kenyah
Suku Kenyah adalah suku Dayak yang termasuk rumpun Kenyah-Kayan-Bahau yang berasal dari daerah Baram, Sarawak. Dari wilayah tersebut suku Kenyah memasuki Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur melalui sungai Iwan di Sarawak terpecah dua sebagian menuju daerah Apau Kayan yang sebelumnya ditempati suku Kayan dan sebagian yang lainnya menuju daerah Bahau. Pergerakan suku ini menuju ke hilir akhirnya sampai ke daerah Mahakam dan akhirnya sebagian menetap di Kampung Pampang Samarinda Utara, Samarinda. Sebagian lagi bergerak ke hilir menuju Tanjung Palas.
Seni budaya suku Kenyah sangat halus dan menarik, sehingga ragam seni hias banyak dipakai pada bangunan-bangunan di Kalimantan Timur. Bukan Sahaja terdiri daripada seni ukiran tetapi tarian dan juga cara hidup.
Suku Kenyah adalah suku Dayak yang termasuk rumpun Kenyah-Kayan-Bahau yang berasal dari daerah Baram, Sarawak. Dari wilayah tersebut suku Kenyah memasuki Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur melalui sungai Iwan di Sarawak terpecah dua sebagian menuju daerah Apau Kayan yang sebelumnya ditempati suku Kayan dan sebagian yang lainnya menuju daerah Bahau. Pergerakan suku ini menuju ke hilir akhirnya sampai ke daerah Mahakam dan akhirnya sebagian menetap di Kampung Pampang Samarinda Utara, Samarinda. Sebagian lagi bergerak ke hilir menuju Tanjung Palas.
Seni budaya suku Kenyah sangat halus dan menarik, sehingga ragam seni hias banyak dipakai pada bangunan-bangunan di Kalimantan Timur. Bukan Sahaja terdiri daripada seni ukiran tetapi tarian dan juga cara hidup.
Langganan:
Postingan (Atom)