Manuhir merupakan sebuah pengobatan alternatif dari Dayak Ngaju. Pengobatan ini adalah sebuah proses untuk mengeluarkan tanda darah kotor yang terdapat pada seseorang yang harus dikeluarkan dari tubuh. Bilamana darah kotor ini tidak dikeluarkan menurut kepercayaan asli masyarakat dayak Ngaju maka orang tersebut akan mengalami mati berdarah seperti kecelakaan, disambar buaya atau tenggelam.
Orang yang dapat melihat adanya tanda darah kotor ini dinamakan Tampung. Manuhir adalah sebuah proses mengeluarkan darah dari jempol atau dari bagian tubuh lain seseorang dengan jalan mengiris / menyayat atau juga melukai, yang dalam bahasa Dayak Ngaju berarti Tuhir. Manuhir diperlukan karena untuk mengeluarkan darah dari orang yang mau diobati, sehingga ancaman atau gangguan dari luar dapat dihindari. Kuasa Tuhan yang Maha Kuasa / Jubata diperlukan untuk mengeluarkan darah itu dengan pembacaan doa-doa khusus yang ditujukan kepada seseorang yang akan diobati.
Tanda darah kotor ini bisa muncul dari sejak bayi atau sudah dewasa. Keberadaan tanda darah kotor ini bisa diketahui dari adanya "Pahuni" yang bisa dilihat oleh seseorang yang punya kemampuan untuk melihatnya. Orang yang mampu melihatnya harus memberitahukan kepada orang yang memiliki tanda darah kotor ini untuk di keluarkan karena kalau tidak maka bencana itu akan menimpa dirinya.
Syarat yang harus dilengkapi untuk mengeluarkan darah kotor ini yaitu: sebutir telur ayam kampung, sebatang jarum kecil, serpihan emas atau perak, sejumlah uang kertas yang digulung dan diletakkan di atas mangkuk putih yang berisi beras. Jarum digunakan untuk mengeluarkan darah dari ibu jari orang yang akan diobati. Dan serpihan emas atau perak untuk menutup bekas tusukan jarum pada tempat jalan keluar dari darah kotor dari jempol penderita. sedangkan telur ayam digunakan untuk membuat tepung tawarbagi penderita yaitu beras yang telah dimasukkan ke dalam telur ayam kampung yang telah dipecahkan terlebih dahulu.
R. Onasis
Sumber: Majalah Kalimantan Review no:174/XIX/Februari/2010
Tampilkan postingan dengan label Kalimantan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kalimantan. Tampilkan semua postingan
Jumat, 03 September 2010
Senin, 02 Agustus 2010
Bagaimana Ekonomi Kalteng, Calon Ibukota RI?
http://bisnis.vivanews.com/news/read/168325-bagaimana-ekonomi-kalteng--calon-ibukota-ri-
Senin, 2 Agustus 2010;Heri Susanto
VIVAnews - Kota Palangkaraya, propinsi Kalimantan Tengah belakangan ini banyak disebut sebagai kota yang layak dijadikan ibukota Indonesia menggantikan Jakarta yang sudah penuh sesak.
Berbagai pendapat menganggap Palangkaraya memenuhi sejumlah kriteria. Di antaranya, wilayahnya sangat luas dan berpotensi dikembangkan, letaknya strategis berada di tengah-tengah Nusantara, serta relatif lebih aman dari gempa yang kerap turut menggetarkan Jakarta.
Namun, bagaimana dari kondisi ekonomi Kalimantan Tengah?
Salah satu ulasan mengenai kondisi ekonomi salah satu propinsi di Kalteng bisa dijumpai dari situs Bank Indonesia, yang secara rutin menyampaikan perkembangan Kajian Perekonomian Regional di seluruh propinsi di Indonesia, termasuk Kalteng.
Laporan kajian ekonomi Kalteng yang terakhir dirilis adalah kajian triwulan I 2010 yang dirilis baru-baru ini. Berdasarkan laporan itu, sesungguhnya anggaran pendapatan pemda Kalteng tergolong kecil, yakni hanya sekitar Rp1,5 triliun pada tahun lalu. Itu bersumber dari pendapatan asli daerah sebesar Rp465 miliar dan dana perimbangan dari pemerintah pusat lebih dari Rp1 triliun.
Dari sisi, produk domestik regional bruto, ekonomi Kalteng juga tergolong kecil, yakni dengan PDRB (harga konstan) hanya Rp16 triliun dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi per tahun 5-6 persen. "Kue ekonomi" sebanyak itu dibagi-bagi untuk sekitar 2 juta penduduk Kalteng yang terbesar di berbagai kota dan desa.
Ini sangat jauh dibandingkan DKI Jakarta yang kini menjadi ibukota RI. APBD 2009 lebih dari Rp22 triliun dan PDRB yang mencapai Rp370 triliun.
Sebagai propinsi dengan wilayah yang sangat luas, perekonomian Kalteng sangat bergantung pada pertanian, khususnya perkebunan. Bahkan, sektor ini menyumbang 33 persen dari produk domestik bruto Kalteng dan berperan menyumbang 1,49 persen dari total pertumbuhan 5 persen pada 2009.
Dominasi sektor pertanian, juga terlihat dari sisi investasi, serta ekspor. Investasi di propinsi ini banyak ditujukan untuk sektor pertanian. Pada triwulan I 2010, investasi domestik untuk sektor ini mencapai Rp7,7 triliun dan investasi asing sebesar US$2,4 miliar.
Sedangkan, untuk ekspor juga didominasi produk komoditas, seperti kelapa sawit, karet dan produk mineral batu bara. Sebagian ekspor ditujukan ke China, kemudian Jepang.
Dominasi produk komoditas ini, menurut Kepala BI Palangkaraya, Amanlison Sembiring, sangat berpengaruh terhadap tingkat konsumsi di masyarakat Kalteng. Saat harga komoditas tinggi, maka tingkat konsumsi juga meningkat.
Salah satu indikatornya, penjualan kendaraan bermotor roda dua meningkat pada triwulan I seiring dengan kenaikan harga komoditas," katanya seperti dikutip dalam laporan tersebut.
Dari sisi perbankan, sebenarnya kondisi keuangan di Kalteng masih relatif belum menonjol. Total kredit yang disalurkan di Kalteng mencapai Rp11 triliun, sedangkan dana pihak ketiga sekitar Rp8 triliun.
Tentunya, ini sangat jauh berbeda dengan ibukota Indonesia saat ini. Dana pihak ketiga perbankan di Jakarta saat ini mencapai hampir Rp1000 triliun atau seratus kali lipat ketimbang dana pihak ketiga perbankan di Kalteng.
Problem yang kerap dihadapi Kalimantan saat ini adalah masalah listrik, infrastruktur jalan, bandara dan pelabuhan, kekurangan investasi, serta pangan yang kerap didatangkan dari propinsi lainnya.
• VIVAnews
Senin, 2 Agustus 2010;Heri Susanto
VIVAnews - Kota Palangkaraya, propinsi Kalimantan Tengah belakangan ini banyak disebut sebagai kota yang layak dijadikan ibukota Indonesia menggantikan Jakarta yang sudah penuh sesak.
Berbagai pendapat menganggap Palangkaraya memenuhi sejumlah kriteria. Di antaranya, wilayahnya sangat luas dan berpotensi dikembangkan, letaknya strategis berada di tengah-tengah Nusantara, serta relatif lebih aman dari gempa yang kerap turut menggetarkan Jakarta.
Namun, bagaimana dari kondisi ekonomi Kalimantan Tengah?
Salah satu ulasan mengenai kondisi ekonomi salah satu propinsi di Kalteng bisa dijumpai dari situs Bank Indonesia, yang secara rutin menyampaikan perkembangan Kajian Perekonomian Regional di seluruh propinsi di Indonesia, termasuk Kalteng.
Laporan kajian ekonomi Kalteng yang terakhir dirilis adalah kajian triwulan I 2010 yang dirilis baru-baru ini. Berdasarkan laporan itu, sesungguhnya anggaran pendapatan pemda Kalteng tergolong kecil, yakni hanya sekitar Rp1,5 triliun pada tahun lalu. Itu bersumber dari pendapatan asli daerah sebesar Rp465 miliar dan dana perimbangan dari pemerintah pusat lebih dari Rp1 triliun.
Dari sisi, produk domestik regional bruto, ekonomi Kalteng juga tergolong kecil, yakni dengan PDRB (harga konstan) hanya Rp16 triliun dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi per tahun 5-6 persen. "Kue ekonomi" sebanyak itu dibagi-bagi untuk sekitar 2 juta penduduk Kalteng yang terbesar di berbagai kota dan desa.
Ini sangat jauh dibandingkan DKI Jakarta yang kini menjadi ibukota RI. APBD 2009 lebih dari Rp22 triliun dan PDRB yang mencapai Rp370 triliun.
Sebagai propinsi dengan wilayah yang sangat luas, perekonomian Kalteng sangat bergantung pada pertanian, khususnya perkebunan. Bahkan, sektor ini menyumbang 33 persen dari produk domestik bruto Kalteng dan berperan menyumbang 1,49 persen dari total pertumbuhan 5 persen pada 2009.
Dominasi sektor pertanian, juga terlihat dari sisi investasi, serta ekspor. Investasi di propinsi ini banyak ditujukan untuk sektor pertanian. Pada triwulan I 2010, investasi domestik untuk sektor ini mencapai Rp7,7 triliun dan investasi asing sebesar US$2,4 miliar.
Sedangkan, untuk ekspor juga didominasi produk komoditas, seperti kelapa sawit, karet dan produk mineral batu bara. Sebagian ekspor ditujukan ke China, kemudian Jepang.
Dominasi produk komoditas ini, menurut Kepala BI Palangkaraya, Amanlison Sembiring, sangat berpengaruh terhadap tingkat konsumsi di masyarakat Kalteng. Saat harga komoditas tinggi, maka tingkat konsumsi juga meningkat.
Salah satu indikatornya, penjualan kendaraan bermotor roda dua meningkat pada triwulan I seiring dengan kenaikan harga komoditas," katanya seperti dikutip dalam laporan tersebut.
Dari sisi perbankan, sebenarnya kondisi keuangan di Kalteng masih relatif belum menonjol. Total kredit yang disalurkan di Kalteng mencapai Rp11 triliun, sedangkan dana pihak ketiga sekitar Rp8 triliun.
Tentunya, ini sangat jauh berbeda dengan ibukota Indonesia saat ini. Dana pihak ketiga perbankan di Jakarta saat ini mencapai hampir Rp1000 triliun atau seratus kali lipat ketimbang dana pihak ketiga perbankan di Kalteng.
Problem yang kerap dihadapi Kalimantan saat ini adalah masalah listrik, infrastruktur jalan, bandara dan pelabuhan, kekurangan investasi, serta pangan yang kerap didatangkan dari propinsi lainnya.
• VIVAnews
15 Bayi Positif HIV di Singkawang
http://nasional.vivanews.com/news/read/163542-15-bayi-positif-hiv-di-singkawang
VIVAnews - Penyebaran penyakit HIV/ AIDS mengkhawatirkan di Kalimantan Barat. Di Kota Singkawang, terdapat 430 warga yang menderita HIV/AIDS, terdiri dari 344 laki-laki dan 86 perempuan.
Dari data itu, terdapat 19 balita yang diduga kena, 15 di antaranya sudah dipastikan positif HIV/ AIDS. Saat ini mereka menjadi pasien Klinik Mawar RSUD Abdul Aziz Singkawang.
Berdasarkan data yang diperoleh dari tahun 2004 - 2010 dari Klinik Mawar, untuk wilayah Kota Singkawang, Kabupaten Bengkayang dan Kabupaten Sambas, dari daerah lain jumlah seluruhnya 723 pasien.
Untuk wilayah Kabupaten Sambas ada 161 orang pasien, terdiri dari 120 dan 41 perempuan. Di Kabupaten Bengkayang, 99 pasien terdiri dari 71 laki laki dan 28 perempuan. Sementara daerah lain mencapai 43 orang, laki laki 23 orang dan perempuan 10 orang. Sebanyak 128 pasien meninggal dunia, terdiri laki laki 115 orang, dan perempuan 13 orang.
Sejak 2006, bayi tertular penyakit mematikan itu mencapai 19 orang, tahun 2006 ada 1 orang, 2007 ada 7 orang, 2008 ada 3 orang, 2009 dan 4 orang, dan 2010 sebanyak 4 orang. Pada 2007, seorang bayi terkena virus HIV/AIDS meninggal dunia.
Penanggung jawab Klinik Mawar RSUD Abdul Aziz Singkawang dr. Budi Enoch, meminta penderita HIV/AIDS jangan dimusuhi. Mereka sama seperti pasien penyakit lainnya.
"Penyakit HIV/AIDS harus menjadi perhatian pemerintah," kata Budi, Jum’at 9 Juli 2010, di Singkawang, Kalimantan Barat. Dia mengingatkan melakukan program pemeriksaan atau program Voluntary Conselling and Testing. Budi meminta kepada semua pihak harus menghilangkan stigma negatif yang selama ini bahwa, penderita HIV AIDS harus dijauhi.(np)
Laporan Aceng Mukaram | Singkawang
• VIVAnews
VIVAnews - Penyebaran penyakit HIV/ AIDS mengkhawatirkan di Kalimantan Barat. Di Kota Singkawang, terdapat 430 warga yang menderita HIV/AIDS, terdiri dari 344 laki-laki dan 86 perempuan.
Dari data itu, terdapat 19 balita yang diduga kena, 15 di antaranya sudah dipastikan positif HIV/ AIDS. Saat ini mereka menjadi pasien Klinik Mawar RSUD Abdul Aziz Singkawang.
Berdasarkan data yang diperoleh dari tahun 2004 - 2010 dari Klinik Mawar, untuk wilayah Kota Singkawang, Kabupaten Bengkayang dan Kabupaten Sambas, dari daerah lain jumlah seluruhnya 723 pasien.
Untuk wilayah Kabupaten Sambas ada 161 orang pasien, terdiri dari 120 dan 41 perempuan. Di Kabupaten Bengkayang, 99 pasien terdiri dari 71 laki laki dan 28 perempuan. Sementara daerah lain mencapai 43 orang, laki laki 23 orang dan perempuan 10 orang. Sebanyak 128 pasien meninggal dunia, terdiri laki laki 115 orang, dan perempuan 13 orang.
Sejak 2006, bayi tertular penyakit mematikan itu mencapai 19 orang, tahun 2006 ada 1 orang, 2007 ada 7 orang, 2008 ada 3 orang, 2009 dan 4 orang, dan 2010 sebanyak 4 orang. Pada 2007, seorang bayi terkena virus HIV/AIDS meninggal dunia.
Penanggung jawab Klinik Mawar RSUD Abdul Aziz Singkawang dr. Budi Enoch, meminta penderita HIV/AIDS jangan dimusuhi. Mereka sama seperti pasien penyakit lainnya.
"Penyakit HIV/AIDS harus menjadi perhatian pemerintah," kata Budi, Jum’at 9 Juli 2010, di Singkawang, Kalimantan Barat. Dia mengingatkan melakukan program pemeriksaan atau program Voluntary Conselling and Testing. Budi meminta kepada semua pihak harus menghilangkan stigma negatif yang selama ini bahwa, penderita HIV AIDS harus dijauhi.(np)
Laporan Aceng Mukaram | Singkawang
• VIVAnews
Manusia Kutil Dari Sambas
http://nasional.vivanews.com/news/read/165299-kutil-terus-memenuhi-tubuhnya
VIVAnews - Kondisi Abdul Hadi, 50 tahun, yang tubuhnya ditumbuhi banyak kutil, sampai saat ini masih memprihatinkan. Warga Desa Buduk Sempadang, Kecamatan Selakau, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat ini, hanya pasrah menerima nasib. Ia sudah menderita penyakit ini sejak berusia 12 tahun.
Abdul Hadi jauh dari berpunya. Ia menetap di rumah berukuran 3 x 5 meter yang berlantaikan papan yang sudah bolong-bolong. Kamar pun hanya satu. Terlihat jelas atap rumahnya sudah bocor. Di kala musim hujan, air masuk membasahi rumah.
Untuk mencapai daerah rumah Abdul Hadi yang terpencil, butuh waktu enam jam berjalan kaki dari jalan besar. Untuk mencapai daerah itu sangat sulit.
Ketika ditemui VIVAnews.com, Abdul Hadi menceritakan kutil yang tumbuh di tubuhnya semakin lama semakin berkembang biak. Yang membuat dia takut, saat digaruk, bentolan-bentolan itu mengeluarkan darah.
Dia sudah berusaha berobat ke dokter guna menyembuhkannya. “Saya hanya diberikan obat sekedarnya saja oleh dokter, saya tak tahu harus mengadu ke mana lagi,” katanya, setengah putus asa.
Pernah dia diperiksa oleh dokter ahli di rumah sakit. Namun, menurut hasil pemeriksaan, dirinya dinyatakan menderita penyakit TBC kulit. “Saya tak mengerti penyakit apa itu karena saya orang kampung,” ujarnya.
Toh, dia tetap berharap dapat sembuh dari penyakit yang sudah lama dideritanya ini. Menurutnya, harapan untuk sembuh selalu disimpannya di dalam hati.
Keseharian Abdul Hadi, yang telah memiliki istri dan dikaruniai tiga orang anak, diisi dengan bertani dan berladang. Meski tergolong miskin, namun dia mengaku tak pernah meminta bantuan siapapun.
Kegigihan dan semangatnya luar biasa. Meski sakit, dia terus bekerja untuk menafkahi keluarganya.
“Yang terpenting saya bisa menjalankan aktivitas sehari-hari dan menghidupi keluarga tanpa meminta belas kasihan orang lain,” kata Abdul Hadi.
Syukurlah, warga sekitar tidak pernah mengejek atau memandangnya rendah. “Warga di sini sudah terbiasa dengan pemandangan di tubuh saya,” katanya. Dia juga tidak merasa minder atau rendah diri.
Ketika ditanya apakah ada upaya dari pemerintah setempat untuk membantunya menyembuhkan penyakit itu, dia bilang belum ada.
“Saya pasrah saja pada Tuhan. Semuanya telah terjadi,” katanya.
Kondisi yang dialami Abdul Hadi mengingatkan kita pada kasus Dede Koswara, 39 tahun. Hanya saja, Dede yang dikenal sebagai "Manusia Akar" itu lebih beruntung. Dia pernah mendapat bantuan menjalani operasi gratis dari pemerintah, meski kini kutilnya masih saja tumbuh. (Laporan: Aceng Mukaram, Pontianak | kd)
• VIVAnews
VIVAnews - Kondisi Abdul Hadi, 50 tahun, yang tubuhnya ditumbuhi banyak kutil, sampai saat ini masih memprihatinkan. Warga Desa Buduk Sempadang, Kecamatan Selakau, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat ini, hanya pasrah menerima nasib. Ia sudah menderita penyakit ini sejak berusia 12 tahun.
Abdul Hadi jauh dari berpunya. Ia menetap di rumah berukuran 3 x 5 meter yang berlantaikan papan yang sudah bolong-bolong. Kamar pun hanya satu. Terlihat jelas atap rumahnya sudah bocor. Di kala musim hujan, air masuk membasahi rumah.
Untuk mencapai daerah rumah Abdul Hadi yang terpencil, butuh waktu enam jam berjalan kaki dari jalan besar. Untuk mencapai daerah itu sangat sulit.
Ketika ditemui VIVAnews.com, Abdul Hadi menceritakan kutil yang tumbuh di tubuhnya semakin lama semakin berkembang biak. Yang membuat dia takut, saat digaruk, bentolan-bentolan itu mengeluarkan darah.
Dia sudah berusaha berobat ke dokter guna menyembuhkannya. “Saya hanya diberikan obat sekedarnya saja oleh dokter, saya tak tahu harus mengadu ke mana lagi,” katanya, setengah putus asa.
Pernah dia diperiksa oleh dokter ahli di rumah sakit. Namun, menurut hasil pemeriksaan, dirinya dinyatakan menderita penyakit TBC kulit. “Saya tak mengerti penyakit apa itu karena saya orang kampung,” ujarnya.
Toh, dia tetap berharap dapat sembuh dari penyakit yang sudah lama dideritanya ini. Menurutnya, harapan untuk sembuh selalu disimpannya di dalam hati.
Keseharian Abdul Hadi, yang telah memiliki istri dan dikaruniai tiga orang anak, diisi dengan bertani dan berladang. Meski tergolong miskin, namun dia mengaku tak pernah meminta bantuan siapapun.
Kegigihan dan semangatnya luar biasa. Meski sakit, dia terus bekerja untuk menafkahi keluarganya.
“Yang terpenting saya bisa menjalankan aktivitas sehari-hari dan menghidupi keluarga tanpa meminta belas kasihan orang lain,” kata Abdul Hadi.
Syukurlah, warga sekitar tidak pernah mengejek atau memandangnya rendah. “Warga di sini sudah terbiasa dengan pemandangan di tubuh saya,” katanya. Dia juga tidak merasa minder atau rendah diri.
Ketika ditanya apakah ada upaya dari pemerintah setempat untuk membantunya menyembuhkan penyakit itu, dia bilang belum ada.
“Saya pasrah saja pada Tuhan. Semuanya telah terjadi,” katanya.
Kondisi yang dialami Abdul Hadi mengingatkan kita pada kasus Dede Koswara, 39 tahun. Hanya saja, Dede yang dikenal sebagai "Manusia Akar" itu lebih beruntung. Dia pernah mendapat bantuan menjalani operasi gratis dari pemerintah, meski kini kutilnya masih saja tumbuh. (Laporan: Aceng Mukaram, Pontianak | kd)
• VIVAnews
Kamis, 29 Juli 2010
Orangutan
http://id.wikipedia.org/wiki/Orang_utanOrang utan (atau orangutan, nama lainnya adalah mawas) adalah sejenis kera besar dengan lengan panjang dan berbulu kemerahan atau cokelat, yang hidup di hutan tropika Indonesia dan Malaysia, khususnya di Pulau Kalimantan dan Sumatera.
Deskripsi
Istilah "orang utan" diambil dari bahasa Melayu, yang berarti manusia (orang) hutan. Orang utan mencakup dua spesies, yaitu orang utan sumatera (Pongo abelii) dan orang utan kalimantan (borneo) (Pongo pygmaeus). Yang unik adalah orang utan memiliki kekerabatan dekat dengan manusia pada tingkat kingdom animalia, dimana orang utan memiliki tingkat kesamaan DNA sebesar 96.4%.
Ciri-Ciri
Mereka memiliki tubuh yang gemuk dan besar, berleher besar, lengan yang panjang dan kuat, kaki yang pendek dan tertunduk, dan tidak mempunyai ekor.
Orangutan memiliki tinggi sekitar 1.25-1.5 meter.
Tubuh orangutan diselimuti rambut merah kecoklatan. Mereka mempunyai kepala yang besar dengan posisi mulut yang tinggi.
Saat mencapai tingkat kematangan seksual, orangutan jantan memiliki pelipis yang gemuk pada kedua sisi, ubun-ubun yang besar, rambut menjadi panjang dan tumbuh janggut disekitar wajah. Mereka mempunyai indera yang sama seperti manusia, yaitu pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecap, dan peraba.
Berat orangutan jantan sekitar 50-90 kg, sedangkan orangutan betina beratnya sekitar 30-50 kg.
Telapak tangan mereka mempunyai 4 jari-jari panjang ditambah 1 ibu jari. Telapak kaki mereka juga memiliki susunan jari-jemari yang sangat mirip dengan manusia.
Orangutan masih termasuk dalam spesies kera besar seperti gorila dan simpanse. Golongan kera besar masuk dalam klasifikasi mammalia, memiliki ukuran otak yang besar, mata yang mengarah kedepan, dan tangan yang dapat melakukan genggaman.
Klasifikasi
Orangutan termasuk hewan vertebrata, yang berarti bahwa mereka memiliki tulang belakang. Orangutan juga termasuk hewan mamalia dan primata.
Spesies dan Subspesies
- Ada 2 jenis spesies orangutan, yaitu orangutan Kalimantan/Borneo (Pongo pygmaeus) dan Orangutan Sumatra (Pongo abelii).
- 2. Keturunan Orangutan Sumatra dan Kalimantan berbeda sejak 1.1 sampai 2.3 juta tahun yang lalu.
- 3. Subspecies
- Orangutan Kalimantan Tengah (P.p.wurmbii) mendiami daerah Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.[9] Mereka merupakan subspesies Borneo yang terbesar.
- Orangutan Kalimantan daerah Timur Laut (P.p.morio) mendiami daerah Sabah dan daerah Kalimantan Timur. Mereka merupakan subspesies yang terkecil.
- Saat ini tidak ada subspecies orangutan Kalimantan yang berhasil dikenali.
Lokasi dan habitat
Orang utan di Taman Nasional Kutai
Orangutan ditemukan di wilayah hutan hujan tropis Asia Tenggara, yaitu di pulau Borneo dan Sumatra di wilayah bagian negara Indonesia dan Malaysia. Mereka biasa tinggal di pepohonan lebat dan membuat sarangnya dari dedaunan. Orangutan dapat hidup pada berbagai tipe hutan, mulai dari hutan dipterokarpus perbukitan dan dataran rendah, daerah aliran sungai, hutan rawa air tawar, rawa gambut, tanah kering di atas rawa bakau dan nipah, sampai ke hutan pegunungan. Di Borneo, orangutan dapat ditemukan pada ketinggian 500 m di atas permukaan laut (dpl), sedangkan kerabatnya di Sumatra dilaporkan dapat mencapai hutan pegunungan pada 1.000 m dpl.
Orangutan Sumatra (Pongo abelii lesson) merupakan salah satu hewan endemis yang hanya ada di Sumatra. Orangutan di Sumatra hanya menempati bagian utara pulau itu, mulai dari Timang Gajah, Aceh Tengah sampai Sitinjak di Tapanuli Selatan. Keberadaan hewan mamalia ini dilindungi Undang-Undang 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan digolongkan sebagai Critically Endangered oleh IUCN. Di Sumatra, salah satu populasi orangutan terdapat di daerah aliran sungai (DAS) Batang Toru, Sumatra Utara. Populasi orangutan liar di Sumatra diperkirakan sejumlah 7.300. Di DAS Batang Toru 380 ekor dengan kepadatan pupulasi sekitar 0,47 sampai 0,82 ekor per kilometer persegi. Populasi orangutan Sumatra (Pongo abelii lesson) kini diperkirakan 7.500 ekor. Padahal pada era 1990 an, diperkirakan 200.000 ekor. Populasi mereka terdapat di 13 daerah terpisah secara geografis. Kondisi ini menyebabkan kelangsungan hidup mereka semakin terancam punah. Saat ini hampir semua Orangutan Sumatra hanya ditemukan di Provinsi Sumatra Utara dan Provinsi Aceh, dengan Danau Toba sebagai batas paling selatan sebarannya. Hanya 2 populasi yang relatif kecil berada di sebelah barat daya [danau], yaitu Sarulla Timur dan hutan-hutan di Batang Toru Barat. Populasi orangutan terbesar di Sumatra dijumpai di Leuser Barat (2.508 individu) dan Leuser Timur (1.052 individu), serta Rawa Singkil (1.500 individu).Populasi lain yang diperkirakan potensial untuk bertahan dalam jangka panjang (viable) terdapat di Batang Toru,Sumatra Utara, dengan ukuran sekitar 400 individu.
Orangutan di Borneo yang dikategorikan sebagai endangered oleh IUCN terbagi dalam tiga subspesies: Orangutan di Borneo dikelompokkan ke dalam tiga anak jenis, yaitu Pongo pygmaeus pygmaeus yang berada di bagian utara Sungai Kapuas sampai ke timur laut Sarawak; Pongo pygmaeus wurmbii yang ditemukan mulai dari selatan Sungai Kapuas hingga bagian barat Sungai Barito; dan Pongo pygmaeus morio. Di Borneo, orangutan dapat ditemukan di Sabah, Sarawak, dan hampir seluruh hutan dataran rendah Kalimantan, kecuali Kalimantan Selatan dan Brunei Darussalam.
Makanan
Meskipun orangutan termasuk hewan omnivora, sebagian besar dari mereka hanya memakan tumbuhan. 90% dari makanannya berupa buah-buahan. Makanannya antara lain adalah kulit pohon, dedaunan, bunga, beberapa jenis serangga, dan sekitar 300 jenis buah-buahan
Selain itu mereka juga memakan nektar,madu dan jamur. Mereka juga gemar makan durian, walaupun aromanya tajam, tetapi mereka menyukainya.
Orangutan bahkan tidak perlu meninggalkan pohon mereka jika ingin minum. Mereka biasanya meminum air yang telah terkumpul di lubang-lubang di antara cabang pohon.
Biasanya induk orangutan mengajarkan bagaimana cara mendapatkan makanan, bagaimana cara mendapatkan makanan, dan berbagai jenis pohon pada musim yang berbeda-beda. Melalui ini, dapat terlihat bahwa orangutan ternyata memiliki peta lokasi hutan yang kompleks di otak mereka, sehingga mereka tidak menyia-nyiakan tenaga pada saat mencari makanan. Dan anaknya juga dapat mengetahui beragam jenis pohon dan tanaman, yang mana yang bisa dimakan dan bagaimana cara memproses makanan yang terlindungi oleh cangkang dan duri yang tajam.
Predator
Predator terbesar orangutan dewasa ini adalah manusia. Selain manusia, predator orangutan adalah macan tutul, babi, buaya, ular phyton, dan elang hitam.
Cara melindungi diri
Orangutan termasuk makhluk pemalu. Mereka jarang memperlihatkan dirinya kepada orang atau makhluk lain yang tak dikenalnya.
Reproduksi
Orangutan betina biasanya melahirkan pada usia 7-10 tahun dengan lama kandungan berkisar antara 8,5 hingga 9 bulan; hampir sama dengan manusia. Jumlah bayi yang dilahirkan seorang betina biasanya hanya satu. Bayi orangutan dapat hidup mandiri pada usia 6-7 tahun. Kebergantungan orangutan pada induknya merupakan yang terlama dari semua hewan, karena ada banyak hal yang harus dipelajari untuk bisa bertahan hidup, mereka biasanya dipelihara hingga berusia 6 tahun.
Orangutan berkembangbiak lebih lama dibandingkan hewan primata lainnya, orangutan betina hanya melahirkan seekor anak setiap 7-8 tahun sekali. Umur orangutan di alam liar sekitar 45 tahun, dan sepanjang gidupnya orangutan betina hanya memiliki 3 keturunan seumur hidupnya. Dimana itu berarti reproduksi orangutan sangat lambat.
Cara bergerak
Orangutan dapat bergerak cepat dari pohon ke pohon dengan cara berayun pada cabang-cabang pohon, atau yang biasa dipanggil brachiating. Mereka juga dapat berjalan dengan kedua kakinya, namun jarang sekali ditemukan. Orang utan tidak dapat berenang.
Cara Hidup
Tidak seperti gorila dan simpanse, orangutan tidak hidup dalam sekawanan yang besar. Mereka merupakan hewan yang semi-soliter. Orangutan jantan biasanya ditemukan sendirian dan orangutan betina biasanya ditemani oleh beberapa anaknya. Walaupun oranutan sering memanjat dan membangun tempat tidur di pohon, mereka pada intinya merupakan hewan terrestrial(menghabiskan hidup di tanah).
Beberapa fakta menarik
- Orangutan dapat menggunakan tongkat sebagai alat bantu untuk mengambil makanan, dan menggunakan daun sebagai pelindung sinar matahari.
- Orangutan jantan terbesar memiliki rentangan lengan (panjang dari satu ujung tangan ke ujung tangan yang lain apabila kedua tangan direntangkan) mencapai 2.3 m.
- Orangutan jantan dapat membuat panggilan jarak jauh yang dapat didengar dalam radius 1 km. Digunakan untuk menandai/mengawasi arealnya, memanggil sang betina, mencegah orang utan jantan lainnya yang mengganggu. Mereka mempunyai kantung tenggorokan yang besar yang membuat mereka mampu melakukannya.
Populasi
Orangutan saat ini hanya terdapat di Sumatra dan Kalimantan, di wilayah Asia Tenggara. Karena tempat tinggalnya merupakan hutan yang lebat, maka sulit untuk memperkirakan jumlah populasi yang tepat. Di Borneo, populasi orangutan diperkirakan sekitar 55.000 individu. Di Sumatra, jumlahnya diperkirakan sekitar 7.500 individu.
Ancaman
Ancaman terbesar yang tengah dialami oleh orangutan adalah habitat yang semakin sempit karena kawasan hutan hujan yang menjadi tempat tinggalnya dijadikan sebagai lahan kelapa sawit, pertambangan dan pepohonan ditebang untuk diambil kayunya. Orangutan telah kehilangan 80% wilayah habitatnya dalam waktu kurang dari 20 tahun. Tak jarang mereka juga dilukai dan bahkan dibunuh oleh para petani dan pemilik lahan karena dianggap sebagai hama. Jika seekor orangutan betina ditemukan dengan anaknya, maka induknya akan dibunuh dan anaknya kemudian dijual dalam perdagangan hewan ilegal. Pusat rehabilitasi didirikan untuk merawat oranutan yang sakit, terluka dan yang telah kehilangan induknya. Mereka dirawat dengan tujuan untuk dikembalikan ke habitat aslinya.
Pembukaan Lahan dan Konversi Perkebunan Sawit
Di Sumatra, populasinya hanya berada di daerah Leuser, yang luasnya 2.6 juta hektar yang mencakup Aceh dan Sumatra Utara. Leuser telah dinyatakan sebagai salah satu dari kawasan keanekaragaman hayati yang terpenting dan ditunjuk sebagai UNESCO Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatera pada tahun 2004. Ekosistemnya menggabungkan Taman Nasional Gunung Leuser, tetapi kebanyakan para Orangutan tinggal diluar batas area yang dilindungi, dimana luas hutan berkurang sebesar 10-15% tiap tahunnya untuk dijadikan sebagai area penebangan dan sebagai kawasan pertanian.
Indonesia merupakan salah satu negara yang mengalami berkurangnya jumlah hutan tropis terbesar didunia. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan berkurangnya laju deforestasi. Sekitar 15 tahun yang lalu, tercatat sekitar 1.7 juta hektar luas hutan yang terus ditebang setiap tahunnya di Indonesia, dan terus bertambah pada tahun 2000 sebanyak 2 juta hektar.
Penebangan legal dan ilegal telah membawa dampak penyusutan jumlah hutan di Sumatra. Pembukaan hutan sebagai ladang sawit di Sumatra dan Kalimantan juga telah mengakibatkan pembabatan hutan sebanyak jutaan hektar, dan semua dataran hutan yang tidak terlindungi akan mengalami hal yang sama nantinya.
Konflik mematikan yang sering terjadi di perkebunan adalah saat dimana Orangutan yang habitatnya makin berkurang karena pembukaan hutan harus mencari makanan yang cukup untuk bertahan hidup. Spesies yang dilindungi dan terancam punah ini seringkali dipandang sebagai ancaman bagi keuntungan perkebunan karena mereka dianggap sebagai hama dan harus dibunuh.
Orangutan biasanya dibunuh saat mereka memasuki area perkebunan dan merusak tanaman. Hal ini sering terjadi karena orangutan tidak bisa menemukan makanan yang mereka butuhkan di hutan tempat mereka tinggal.
Perdagangan Ilegal
Secara teori, orangutan telah dilindungi di Sumatra dengan peraturan perundang-undangan sejak tahun 1931, yang melarang untuk memiliki, membunuh atau menangkap orangutan. Tetapi pada prakteknya, para pemburu masih sering memburu mereka, kebanyakan untuk perdagangan hewan. Pada hukum internasional, orangutan masuk dalam Appendix I dari daftar CITES(Convention on International Trade in Endangered Species) yang melarang dilakukannya perdagangan karena mengingat status konservasi dari spesies ini dialam bebas. Namun, tetap saja ada banyak permintaan terhadap bayi orangutan, baik itu permintaan lokal, nasional dan internasional untuk dijadikan sebagai hewan peliharaan. Anak orangutan sangat bergantung pada induknya untuk bertahan hidup dan juga dalam proses perkembangan, untuk mengambil anak dari orangutan maka induknya harus dibunuh. Diperkirakan, untuk setiap bayi yang selamat dari penangkapan dan pengangkutan merepresentasikan kematian dari orangutan betina dewasa.
Menurut data dari website WWF, diperkirakan telah terjadi pengimporan orangutan ke Taiwan sebanyak 1000 ekor yang terjadi antara tahun 1985 dan 1990. Untuk setiap orangutan yang tiba di Taiwan, maka ada 3 sampai 5 hewan lain yang mati dalam prosesnya.
Perdagangan orangutan dilaporakan juga terjadi di Kalimantan, dimana baik orangutan itu hidaup atau mati juga masih tetap terjual.
Status Konservasi
Orangutan Sumatra telah masuk dalam klasifikasi Critically Endanger dalam daftar IUCN. Populasinya menurun drastis dimana pada tahun 1994 jumlahnya mencapai lebih dari 12.000, namun pada tahun 2003 menjadi sekitar 7.300 ekor. Data pada tahun 2008 melaporkan bahwa diperkirakan jumlah Orangutan Sumatra di alam liar hanya tinggal sekitar 6.500 ekor.
Secara historis, orangutan ditemukan di kawasan hutan lintas Sumatra, tetapi sekarang terbatas hanya didaerah Sumatra Utara dan provinsi Aceh. Habitat yang sesuai untuk Orangutan saat ini hanya tersisa sekitar kurang dari 900.000 hektar di pulau Sumatra.
Saat ini diperkirakan orangutan akan menjadi spesies kera besar pertama yang punah di alam liar. Penyebab utamanya adalah berkurangnya habitat dan perdagangan hewan.
Orangutan merupakan spesies dasar bagi konservasi. Orangutan memegang peranan penting bagi regenerasi hutan melalui buah-buahan dan biji-bijian yang mereka makan. Hilangnya orangutan mencerminkan hilangnya ratusan spesies tanaman dan hewan pada ekosistem hutan hujan.
Hutan primer dunia yang tersisa merupakan dasar kesejahteraan manusia, dan kunci dari planet yang sehat adalah keanekaragaman hayati, menyelamatkan orangutan turut menolong mamalia, burung, reptil, amfibi, serangga, tanaman, dan berbagain macam spesies lainnya yang hidup di hutan hujan Indonesia.
Rabu, 28 Juli 2010
Suku Dayak #2
Suku Dayak terdiri :
* Suku Dayak Punan di Kalimantan Tengah
* Suku Dayak Kanayatn di Kalimantan Barat
* Suku Dayak Iban di Kalimantan Barat
* Suku Dayak Mualang di Kalimantan Barat: Sekadau, Sintang
* Suku Dayak Bidayuh di Kalimantan Barat: Sanggau
* Suku Dayak Mali di Kalimantan Barat
* Suku Dayak Seberuang di Kalimantan Barat: Sintang
* Suku Dayak Sekujam di Kalimantan Barat: Sintang
* Suku Dayak Sekubang di Kalimantan Barat: Sintang
* Suku Dayak Ketungau di Kalimantan Barat
* Suku Dayak Desa di Kalimantan Barat
* Suku Dayak Kantuk di Kalimantan Barat
* Suku Dayak Ot Danum atau Dohoi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat
* Suku Dayak Limbai di Kalimantan Barat
* Suku Dayak Kebahan di Kalimantan Barat
* Suku Dayak Pawan di Kalimantan Barat
* Suku Dayak Tebidah di Kalimantan Barat
* Suku Dayak Bakumpai di Kalimantan Selatan Barito Kuala
* Suku Dayak Barangas di Kalimantan Selatan Barito Kuala
* Suku Dayak Bukit di Kalimantan Selatan
* Suku Dayak Pitap di Awayan, Balangan, Kalsel
* Suku Dayak Hulu Banyu di Kalimantan Selatan
* Suku Dayak Balangan di Kalimantan Selatan
* Suku Dayak Dusun Deyah di Kalimantan Selatan: Tabalong
* Suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah: Kabupaten Kapuas
* Suku Dayak Siang Murung di Kalimantan Tengah: Murung Raya
* Suku Dayak Bara Dia di Kalimantan Tengah: Barito Selatan
* Suku Dayak Ot Danum di Kalimantan Tengah
* Suku Dayak Lawangan di Kalimantan Tengah
* Suku Dayak Bawo di Kalimantan Tengah: Barito Selatan
* Suku Dayak Tunjung, Kutai Barat, rumpun Ot Danum
* Suku Dayak Benuaq, Kutai Barat, rumpun Ot Danum
* Suku Dayak Bentian, Kutai Barat, rumpun Ot Danum
* Suku Dayak Bukat, Kutai Barat
* Suku Dayak Busang, Kutai Barat
* Suku Dayak Ohong, Kutai Barat
* Suku Dayak Kayan, Kutai Barat, rumpun Apo Kayan
* Suku Dayak Bahau, Kutai Barat, rumpun Apo Kayan
* Suku Dayak Penihing, Kutai Barat, rumpun Punan
* Suku Dayak Punan, Kutai Barat, rumpun Punan
* Suku Dayak Modang, Kutai Timur, rumpun Punan
* Suku Dayak Basap, Bontang-Kutai Timur
* Suku Dayak Ahe di Kabupaten Berau
* Suku Dayak Tagol, Malinau, rumpun Murut
* Suku Dayak Brusu, Malinau, rumpun Murut
* Suku Dayak Kenyah, Malinau, rumpun Apo Kayan
* Suku Dayak Lundayeh, Malinau
* Suku Dayak Pasir di Kalimantan Timur: Kabupaten Pasir
* Suku Dayak Dusun di Kalimantan Tengah
* Suku Dayak Maanyan di Kalimantan Tengah: Barito Timur
o Suku Dayak Maanyan Paju Sapuluh
o Suku Dayak Maanyan Paju Epat
o Suku Dayak Maanyan Dayu
o Suku Dayak Maanyan Paku
o Suku Dayak Maanyan Benua Lima Maanyan Paju Lima
o Suku Dayak Warukin di Tanta, Tabalong, Kalsel
o Suku Dayak Samihim, Pamukan Utara, Kotabaru, Kalsel
* Suku Dayak Punan di Kalimantan Tengah
* Suku Dayak Kanayatn di Kalimantan Barat
* Suku Dayak Iban di Kalimantan Barat
* Suku Dayak Mualang di Kalimantan Barat: Sekadau, Sintang
* Suku Dayak Bidayuh di Kalimantan Barat: Sanggau
* Suku Dayak Mali di Kalimantan Barat
* Suku Dayak Seberuang di Kalimantan Barat: Sintang
* Suku Dayak Sekujam di Kalimantan Barat: Sintang
* Suku Dayak Sekubang di Kalimantan Barat: Sintang
* Suku Dayak Ketungau di Kalimantan Barat
* Suku Dayak Desa di Kalimantan Barat
* Suku Dayak Kantuk di Kalimantan Barat
* Suku Dayak Ot Danum atau Dohoi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat
* Suku Dayak Limbai di Kalimantan Barat
* Suku Dayak Kebahan di Kalimantan Barat
* Suku Dayak Pawan di Kalimantan Barat
* Suku Dayak Tebidah di Kalimantan Barat
* Suku Dayak Bakumpai di Kalimantan Selatan Barito Kuala
* Suku Dayak Barangas di Kalimantan Selatan Barito Kuala
* Suku Dayak Bukit di Kalimantan Selatan
* Suku Dayak Pitap di Awayan, Balangan, Kalsel
* Suku Dayak Hulu Banyu di Kalimantan Selatan
* Suku Dayak Balangan di Kalimantan Selatan
* Suku Dayak Dusun Deyah di Kalimantan Selatan: Tabalong
* Suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah: Kabupaten Kapuas
* Suku Dayak Siang Murung di Kalimantan Tengah: Murung Raya
* Suku Dayak Bara Dia di Kalimantan Tengah: Barito Selatan
* Suku Dayak Ot Danum di Kalimantan Tengah
* Suku Dayak Lawangan di Kalimantan Tengah
* Suku Dayak Bawo di Kalimantan Tengah: Barito Selatan
* Suku Dayak Tunjung, Kutai Barat, rumpun Ot Danum
* Suku Dayak Benuaq, Kutai Barat, rumpun Ot Danum
* Suku Dayak Bentian, Kutai Barat, rumpun Ot Danum
* Suku Dayak Bukat, Kutai Barat
* Suku Dayak Busang, Kutai Barat
* Suku Dayak Ohong, Kutai Barat
* Suku Dayak Kayan, Kutai Barat, rumpun Apo Kayan
* Suku Dayak Bahau, Kutai Barat, rumpun Apo Kayan
* Suku Dayak Penihing, Kutai Barat, rumpun Punan
* Suku Dayak Punan, Kutai Barat, rumpun Punan
* Suku Dayak Modang, Kutai Timur, rumpun Punan
* Suku Dayak Basap, Bontang-Kutai Timur
* Suku Dayak Ahe di Kabupaten Berau
* Suku Dayak Tagol, Malinau, rumpun Murut
* Suku Dayak Brusu, Malinau, rumpun Murut
* Suku Dayak Kenyah, Malinau, rumpun Apo Kayan
* Suku Dayak Lundayeh, Malinau
* Suku Dayak Pasir di Kalimantan Timur: Kabupaten Pasir
* Suku Dayak Dusun di Kalimantan Tengah
* Suku Dayak Maanyan di Kalimantan Tengah: Barito Timur
o Suku Dayak Maanyan Paju Sapuluh
o Suku Dayak Maanyan Paju Epat
o Suku Dayak Maanyan Dayu
o Suku Dayak Maanyan Paku
o Suku Dayak Maanyan Benua Lima Maanyan Paju Lima
o Suku Dayak Warukin di Tanta, Tabalong, Kalsel
o Suku Dayak Samihim, Pamukan Utara, Kotabaru, Kalsel
Suku Kutai
http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Kutai
Suku Kutai adalah suku asli di kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Kebudayaan Kutai berawal sejak berdirinya Kerajaan Kutai pada abad IV yang merupakan kerajaan Hindu pertama di Nusantara dengan rajanya yang terkenal, Mulawarman.
Kemudian berlanjut dengan Kesultanan Kutai dengan sultan terakhir Aji Parikesit. Setelah kekosongan yang lama telah diadakan penabalan sultan baru yaitu Aji Muhammad Salehuddin II.
Suku Kutai terdiri atas 4 sub-etnis yaitu :
1. Kutai Tenggarong di Tenggarong, Kutai Kartanegara
2. Kutai Kota Bangun di Kota Bangun, Kutai Kartanegara
3. Kutai Muara Ancalong di Muara Ancalong, Kutai Timur
4. Kutai Muara Pahu di Muara Pahu, Kutai Barat
Menurut situs "Joshua Project" suku Melayu Kutai Tenggarong berjumlah 314.000 jiwa.
Suku Kutai lainnya adalah Melayu Kutai Kota Bangun. Menurut situs "Joshua Project" suku Melayu Kutai Kota Bangun berjumlah 81.000 jiwa.
Bahasa Kutai terbagi ke dalam 3 dialek yang letaknya tidak saling berdekatan :
1. Kutai Tenggarong ( vkt )
2. Kutai Kota Bangun ( mqg )
3. Kutai Muara Ancalong ( vkt )
Disamping memiliki beberapa persaamaan kosa kata dengan bahasa Banjar, Bahasa Kutai juga memiliki persamaan kosa kata dengan bahasa Iban, misalnya :
* nade (Bahasa Kutai Kota Bangun); nadai (Bahasa Kantu'), artinya tidak
* celap (Bahsa Kutai Tenggarong; celap (Bahasa Dayak Iban, Bahasa Tunjung), jelap (Bahasa
Benuaq) artinya dingin
* balu (Bahasa Kutai Tenggarong), balu (Bahasa Iban, balu' Bahasa Benuaq), artinya janda
* hek (Bahasa Kutai Tenggarong), he' (Bahasa Tunjung), artinya tidak
Menurut kepercayaan penduduk, daerah Kutai dulunya dihuni oleh 5 puak, yaitu:
* Kelompok Suku Melayu
Puak Pantun, Punang dan Melani tumbuh dan berkembang menjadi suku Kutai yang memiliki bahasa sama namun beda dialek. Dengan demikian suku Kutai adalah suku asli daerah ini. Selanjutnya secara bergelombang berdatangan suku Banjar dan Bugis, sehingga kelompok suku Melayu yang mendiami daerah Kutai terdiri atas suku Kutai, Banjar dan Bugis.
* Kelompok Suku Dayak
Keturunan Puak Tulur Dijangkat tumbuh dan berkembang menjadi suku Dayak. Mereka berpencar meninggalkan tanah aslinya dan membentuk kelompok suku masing-masing yang sekarang dikenal sebagai suku Dayak Tunjung, Bahau, Benuaq, Modang, Penihing, Busang, Bukat, Ohong dan Bentian.
Suku Kutai adalah suku asli di kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Kebudayaan Kutai berawal sejak berdirinya Kerajaan Kutai pada abad IV yang merupakan kerajaan Hindu pertama di Nusantara dengan rajanya yang terkenal, Mulawarman.
Kemudian berlanjut dengan Kesultanan Kutai dengan sultan terakhir Aji Parikesit. Setelah kekosongan yang lama telah diadakan penabalan sultan baru yaitu Aji Muhammad Salehuddin II.
Suku Kutai terdiri atas 4 sub-etnis yaitu :
1. Kutai Tenggarong di Tenggarong, Kutai Kartanegara
2. Kutai Kota Bangun di Kota Bangun, Kutai Kartanegara
3. Kutai Muara Ancalong di Muara Ancalong, Kutai Timur
4. Kutai Muara Pahu di Muara Pahu, Kutai Barat
Menurut situs "Joshua Project" suku Melayu Kutai Tenggarong berjumlah 314.000 jiwa.
Suku Kutai lainnya adalah Melayu Kutai Kota Bangun. Menurut situs "Joshua Project" suku Melayu Kutai Kota Bangun berjumlah 81.000 jiwa.
Bahasa Kutai terbagi ke dalam 3 dialek yang letaknya tidak saling berdekatan :
1. Kutai Tenggarong ( vkt )
2. Kutai Kota Bangun ( mqg )
3. Kutai Muara Ancalong ( vkt )
Disamping memiliki beberapa persaamaan kosa kata dengan bahasa Banjar, Bahasa Kutai juga memiliki persamaan kosa kata dengan bahasa Iban, misalnya :
* nade (Bahasa Kutai Kota Bangun); nadai (Bahasa Kantu'), artinya tidak
* celap (Bahsa Kutai Tenggarong; celap (Bahasa Dayak Iban, Bahasa Tunjung), jelap (Bahasa
Benuaq) artinya dingin
* balu (Bahasa Kutai Tenggarong), balu (Bahasa Iban, balu' Bahasa Benuaq), artinya janda
* hek (Bahasa Kutai Tenggarong), he' (Bahasa Tunjung), artinya tidak
Menurut kepercayaan penduduk, daerah Kutai dulunya dihuni oleh 5 puak, yaitu:
- Puak Pantun yang tinggal di sekitar Muara Ancalong, Kutai Timur dan Muara Kaman, Kutai Kartanegara
- Puak Punang yang tinggal di sekitar Muara Muntai, Kutai Kartanegara dan Kota Bangun
- Puak Pahu yang mendiami daerah sekitar Muara Pahu, Kutai Barat
- Puak Tulur Dijangkat yang mendiami daerah sekitar Barong Tongkok, Kutai Barat dan Melak, Kutai Barat
- Puak Melani yang mendiami daerah sekitar Kutai Lama dan Tenggarong
* Kelompok Suku Melayu
Puak Pantun, Punang dan Melani tumbuh dan berkembang menjadi suku Kutai yang memiliki bahasa sama namun beda dialek. Dengan demikian suku Kutai adalah suku asli daerah ini. Selanjutnya secara bergelombang berdatangan suku Banjar dan Bugis, sehingga kelompok suku Melayu yang mendiami daerah Kutai terdiri atas suku Kutai, Banjar dan Bugis.
* Kelompok Suku Dayak
Keturunan Puak Tulur Dijangkat tumbuh dan berkembang menjadi suku Dayak. Mereka berpencar meninggalkan tanah aslinya dan membentuk kelompok suku masing-masing yang sekarang dikenal sebagai suku Dayak Tunjung, Bahau, Benuaq, Modang, Penihing, Busang, Bukat, Ohong dan Bentian.
- Suku Tunjung mendiami daerah kecamatan Melak, Kutai Barat, Barong Tongkok, Kutai Barat dan Muara Pahu, Kutai Barat
- Suku Bahau mendiami daerah kecamatan Long Iram, Kutai Barat dan Long Bagun, Kutai Barat
- Suku Benuaq mendiami daerah kecamatan Jempang, Kutai Barat, Muara Lawa, Kutai Barat, Damai, Kutai Barat dan Muara Pahu, Kutai Barat
- Suku Modang mendiami daerah kecamatan Muara Ancalong, Kutai Timur dan Muara Wahau, Kutai Timur
- Suku Penihing, suku Bukat dan suku Ohong mendiami daerah kecamatan Long Apari, Kutai Barat
- Suku Busang mendiami daerah kecamatan Long Pahangai, Kutai Barat
- Suku Bentian mendiami daerah kecamatan Bentian Besar, Kutai Barat dan Muara Lawa, Kutai Barat
Dayak Dusun Witu
http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Dayak_Dusun_Witu
Suku Dayak Dusun Witu adalah suku Dayak dari rumpun Ot Danum yang mendiami Buntok Kecil dan Desa Pendang ibukota kecamatan Dusun Utara, Barito Selatan, Kalimantan Tengah.
Bahasa Dusun Witu
Dusun Witu (duq) adalah bahasa selatan dituturkan di Borneo Kalimantan, Indonesia.
Salah satu dialek ialah Dusun Pepas.
Bahasa ini dianggap terancam. Bilangan orang yang menuturnya jatuh daripada 25,000 pada tahun 1981 ke 5,000 pada tahun 2003.
Kosakata
Sekitar 75% dari kosakata secara kasar setara dengan bahasa Maanyan, dengan 73% dari bahasa Paku. Kedua bahasa tersebut sangat terkait dengan Dusun Witu.
Suku Dayak Dusun Witu adalah suku Dayak dari rumpun Ot Danum yang mendiami Buntok Kecil dan Desa Pendang ibukota kecamatan Dusun Utara, Barito Selatan, Kalimantan Tengah.
Bahasa Dusun Witu
Dusun Witu (duq) adalah bahasa selatan dituturkan di Borneo Kalimantan, Indonesia.
Salah satu dialek ialah Dusun Pepas.
Bahasa ini dianggap terancam. Bilangan orang yang menuturnya jatuh daripada 25,000 pada tahun 1981 ke 5,000 pada tahun 2003.
Kosakata
Sekitar 75% dari kosakata secara kasar setara dengan bahasa Maanyan, dengan 73% dari bahasa Paku. Kedua bahasa tersebut sangat terkait dengan Dusun Witu.
Dayak Kenyah
http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Kenyah
Suku Kenyah adalah suku Dayak yang termasuk rumpun Kenyah-Kayan-Bahau yang berasal dari daerah Baram, Sarawak. Dari wilayah tersebut suku Kenyah memasuki Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur melalui sungai Iwan di Sarawak terpecah dua sebagian menuju daerah Apau Kayan yang sebelumnya ditempati suku Kayan dan sebagian yang lainnya menuju daerah Bahau. Pergerakan suku ini menuju ke hilir akhirnya sampai ke daerah Mahakam dan akhirnya sebagian menetap di Kampung Pampang Samarinda Utara, Samarinda. Sebagian lagi bergerak ke hilir menuju Tanjung Palas.
Seni budaya suku Kenyah sangat halus dan menarik, sehingga ragam seni hias banyak dipakai pada bangunan-bangunan di Kalimantan Timur. Bukan Sahaja terdiri daripada seni ukiran tetapi tarian dan juga cara hidup.
Suku Kenyah adalah suku Dayak yang termasuk rumpun Kenyah-Kayan-Bahau yang berasal dari daerah Baram, Sarawak. Dari wilayah tersebut suku Kenyah memasuki Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur melalui sungai Iwan di Sarawak terpecah dua sebagian menuju daerah Apau Kayan yang sebelumnya ditempati suku Kayan dan sebagian yang lainnya menuju daerah Bahau. Pergerakan suku ini menuju ke hilir akhirnya sampai ke daerah Mahakam dan akhirnya sebagian menetap di Kampung Pampang Samarinda Utara, Samarinda. Sebagian lagi bergerak ke hilir menuju Tanjung Palas.
Seni budaya suku Kenyah sangat halus dan menarik, sehingga ragam seni hias banyak dipakai pada bangunan-bangunan di Kalimantan Timur. Bukan Sahaja terdiri daripada seni ukiran tetapi tarian dan juga cara hidup.
Dayak Kadazan
http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Dayak_Kadazan
Suku Dayak Kadazan adalah penduduk pribumi asli yang terbesar di Sabah, Malaysia. Awalnya, orang Kadazan ini berasal dari Mongolia dan sedikit campuran Tiongkok.Orang Kadazan ini berpusat di pedalaman Sabah, yaitu Kudat, Sandakan, Tawau, dan Beluran. Di Beluran, suku Kadazan dipanggil dengan sebutan Orang Sungai atau Sumandakia Sungut. Percakapan orang Kadazan ini berasal dari bahasa Mongolia, yaitu bahasa Achimet Tori. Orang Kadazan memiliki perayaan yang berbeda daripada suku lainnya, yaitu perayaan Hari Gawai, Haverst Day, Sumantuk Silopan, dan Panggangan Saimut.Orang Kadazan tidak mempunyai pengaturan dalam hal mempunyai anak, sehingga mereka cenderung memiliki banyak anak. Dalam berbagai hal, suku Kadazan memiliki tradisi kuat dalam ilmu mistik.
Suku Kadazan adalah yang kedua terbesar populasinya dari golongan orang Dusun.
Suku Dayak Kadazan adalah penduduk pribumi asli yang terbesar di Sabah, Malaysia. Awalnya, orang Kadazan ini berasal dari Mongolia dan sedikit campuran Tiongkok.Orang Kadazan ini berpusat di pedalaman Sabah, yaitu Kudat, Sandakan, Tawau, dan Beluran. Di Beluran, suku Kadazan dipanggil dengan sebutan Orang Sungai atau Sumandakia Sungut. Percakapan orang Kadazan ini berasal dari bahasa Mongolia, yaitu bahasa Achimet Tori. Orang Kadazan memiliki perayaan yang berbeda daripada suku lainnya, yaitu perayaan Hari Gawai, Haverst Day, Sumantuk Silopan, dan Panggangan Saimut.Orang Kadazan tidak mempunyai pengaturan dalam hal mempunyai anak, sehingga mereka cenderung memiliki banyak anak. Dalam berbagai hal, suku Kadazan memiliki tradisi kuat dalam ilmu mistik.
Suku Kadazan adalah yang kedua terbesar populasinya dari golongan orang Dusun.
Dayak Dusun Deyah
http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Dayak_Dusun_Deyah
Suku Dusun Deyah atau Suku Dayak Deyah/Dayak Deah atau Suku Dayak Dusun Deyah adalah salah satu suku Dayak dari rumpun Ot Danum/rumpun Barito Raya dari kelompok Dusun yang mendiami kawasan Gunung Riut, kecamatan Upau, Muara Uya, dan Haruai yang terletak di bagian utara, kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan. Menurut situs "Joshua Project" suku Dusun Deyah berjumlah 30.000 jiwa.
Kata 'deyah' berarti 'tidak' dalam bahasa Dusun Deyah, maksudnya suku Dayak Dusun Deyah walaupun sebagian diantaranya sudah ada yang memeluk agama Islam, tetapi mereka tetap teguh menyatakan dirinya sebagai suku Dayak, berbeda dengan sebagian suku Dayak lainnya yang beralih menyebut dirinya menjadi suku Banjar (Melayu).
Wilayah adat Muara Uya
Suku Dusun Deyah yang terdapat di Kabupaten Tabalong ini terbagi menjadi dua wilayah adat yaitu :
Adat Kampung Sepuluh
Adat Kampung Sepuluh adalah suatu istilah yang digunakan untuk menyebut aturan adat yang mengikat di sepuluh kampung yang terdapat pada kecamatan Bintang Ara, Haruai dan Upau. Kesepuluh kampung tersebut merupakan satu kesatuan wilayah adat Dayak dari suku Dusun Deyah yang dipimpin oleh seorang Kepala Adat Kampung Sepuluh. Wilayah kesatuan adat tersebut meliputi desa-desa, yaitu :
1. Kamintan Raya
2. Dambung Raya
3. Kaong
4. Upau Jaya
5. Pangelak
6. Dambung Suring
7. Sungai Rumbia
8. Kinarum
9. Saradang
10. Kembang Kuning
11. Nawin
Suku Dusun Deyah atau Suku Dayak Deyah/Dayak Deah atau Suku Dayak Dusun Deyah adalah salah satu suku Dayak dari rumpun Ot Danum/rumpun Barito Raya dari kelompok Dusun yang mendiami kawasan Gunung Riut, kecamatan Upau, Muara Uya, dan Haruai yang terletak di bagian utara, kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan. Menurut situs "Joshua Project" suku Dusun Deyah berjumlah 30.000 jiwa.
Kata 'deyah' berarti 'tidak' dalam bahasa Dusun Deyah, maksudnya suku Dayak Dusun Deyah walaupun sebagian diantaranya sudah ada yang memeluk agama Islam, tetapi mereka tetap teguh menyatakan dirinya sebagai suku Dayak, berbeda dengan sebagian suku Dayak lainnya yang beralih menyebut dirinya menjadi suku Banjar (Melayu).
Wilayah adat Muara Uya
Suku Dusun Deyah yang terdapat di Kabupaten Tabalong ini terbagi menjadi dua wilayah adat yaitu :
- Wilayah Adat Kampung Sepuluh, meliputi kecamatan Upau dan Haruai.
- Wilayah Adat Muara Uya, termasuk di dalamnya minoritas suku Lawangan di desa Binjai, tetapi kepala adat diambil dari suku Dusun Deyah yang mayoritas di kecamatan tersebut.
Adat Kampung Sepuluh
Adat Kampung Sepuluh adalah suatu istilah yang digunakan untuk menyebut aturan adat yang mengikat di sepuluh kampung yang terdapat pada kecamatan Bintang Ara, Haruai dan Upau. Kesepuluh kampung tersebut merupakan satu kesatuan wilayah adat Dayak dari suku Dusun Deyah yang dipimpin oleh seorang Kepala Adat Kampung Sepuluh. Wilayah kesatuan adat tersebut meliputi desa-desa, yaitu :
1. Kamintan Raya
2. Dambung Raya
3. Kaong
4. Upau Jaya
5. Pangelak
6. Dambung Suring
7. Sungai Rumbia
8. Kinarum
9. Saradang
10. Kembang Kuning
11. Nawin
Dayak Bakumpai
http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Bakumpai
Suku Bakumpai atau Dayak Bakumpai adalah subetnis rumpun Dayak Ngaju yang mendiami sepanjang tepian daerah aliran sungai Barito di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah yaitu dari kota Marabahan, Barito Kuala sampai kota Puruk Cahu, Murung Raya. Suku Bakumpai berasal bagian hulu dari bekas Distrik Bakumpai sedangkan di bagian hilirnya adalah pemukiman orang Barangas (Baraki). Sebelah utara (hulu) dari wilayah bekas Distrik Bakumpai adalah wilayah Distrik Mangkatip (Mengkatib) merupakan pemukiman suku Dayak Bara Dia atau Suku Dayak Mangkatip. Suku Bakumpai maupun suku Mangkatip merupakan keturunan suku Dayak Ngaju dari Tanah Dayak.
Menurut situs "Joshua Project" suku Bakumpai berjumlah 41.000 jiwa.
Populasi suku Bakumpai di Kalimantan Selatan pada sensus penduduk tahun 2000 oleh Badan Pusat Statistik berjumlah 20.609 jiwa. Di Kalimantan Selatan, suku Bakumpai terbanyak terdapat di kabupaten Barito Kuala sejumlah 18.892 jiwa (tahun 2000).
Kabupaten yang terdapat suku Bakumpai :
Hampir seluruh suku Bakumpai beragama Islam dan relatif sudah tidak nampak religi suku seperti pada kebanyakan suku Dayak (Kaharingan). Upacara adat yang berkaitan dengan sisa-sisa kepercayaan lama, misalnya ritual "Badewa" dan "Manyanggar Lebu".
Menurut Tjilik Riwut, Suku Dayak Bakumpai merupakan suku kekeluargaan yang termasuk golongan suku (kecil) Dayak Ngaju. Suku Dayak Ngaju merupakan salah satu dari 4 suku kecil bagian dari suku besar (rumpun) yang juga dinamakan Dayak Ngaju (Ot Danum).
Mungkin ada pula yang menamakan rumpun suku ini dengan nama rumpun Dayak Ot Danum. Penamaan ini juga dapat dipakai, sebab menurut Tjilik Riwut, suku Dayak Ngaju merupakan keturunan dari Dayak Ot Danum yang tinggal atau berasal dari hulu sungai-sungai yang terdapat di kawasan ini, tetapi sudah mengalami perubahan bahasa. Jadi suku Ot Danum merupakan induk suku, tetapi suku Dayak Ngaju merupakan suku yang dominan di kawasan ini.
Silsilah suku Bakumpai;
Suku Dayak (suku asal), terbagi suku besar (rumpun):
* Dayak Laut (Iban)
* Dayak Darat
* Dayak Apo Kayan / Kenyah-Bahau
* Dayak Murut
* Dayak Ngaju / Ot Danum, terbagi 4 suku kecil:
o Dayak Maanyan
o Dayak Lawangan
o Dayak Dusun
o Dayak Ngaju, terbagi beberapa suku kekeluargaan :
+ Dayak Bakumpai
+ dan lain-lain
Perbandingan hubungan suku Bakumpai dengan suku Dayak Ngaju, seperti hubungan suku Tengger dengan suku Jawa. Suku Dayak Ngaju merupakan suku induk bagi suku Bakumpai.
Organisasi suku Bakumpai yaitu "Kerukunan Keluarga Bakumpai" (KKB), merupakan partai lokal Kalimantan pada pemilu 1955.
Secara etimologis, bakumpai adalah julukan bagi suku dayak yang mendiami daerah aliran sungai barito. Bakumpai berasal dari kata ba (dalam bahasa banjar yang artinya memiliki) dan kumpai yang artinya adalah rumput.
Dari julukan ini, dapat dipahami bahwa suku ini mendiami wilayah yang memiliki banyak rumput. Menurut legenda, bahwa asal muasal suku dayak Bakumpai adalah dari suku dayak ngaju yang akhirnya berhijrah ke negeri yang sekarang disebut dengan negeri marabahan.
Pada mulanya mereka menganut agama nenek moyang yaitu Kaharingan, hal ini dapat dilihat dari peninggalan budaya yang sama seperti suku dayak lainnya. Kemudian mereka menjumpai akan wilayah itu seorang yang memiliki kharismatik, seorang yang apabila dia berdiri di suatu tanah, maka tanah itu akan ditumbuhi rumput. Orang tersebut tidak lain adalah Nabiyullah Khidir as. di dalam cerita mereka kemudian masuk agam islam dan berkembang biaklah mereka menjadi suatu suku. Suku Bakumpai adalah julukan bagi mereka, karena apabila mereka belajar agama di suatu daerah dengan gurunya khidir, maka tumbuhlah rumput dari daratan tersebut, sehingga kemudian mereka dikenal dengan suku bangsa Bakumpai.
Suku dayak Bakumpai dahulunya memiliki suatu kerajaan yang lebih tua dibandingkan dengan kerajaan daerah banjar, akan tetapi karena daya magis yang luar biasa akhirnya kerajaan ini berpindah ke sungai Barito dan rajanya dikenal dengan nama datuk Barito.
Dari daerah marabahan ini mereka menyebar ke aliran sungai Barito. Dari cerita rakyat, bahwa ada suatu daerah di kabupaten murung raya yaitu muara untu pada mulanya hanyalah suatu hutan belantara yang dikuasai oleh bangsa jin bernama untu. kemudian ada dari suku Bakumpai yang hijrah kesana dan mendiami daerah tersebut yang bernama Raghuy. sampai sekarang jika ditinjau dari silsilah orang yang mendiami muara untu, mereka menamakan moyang mereka Raguy.
Suku Bakumpai atau Dayak Bakumpai adalah subetnis rumpun Dayak Ngaju yang mendiami sepanjang tepian daerah aliran sungai Barito di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah yaitu dari kota Marabahan, Barito Kuala sampai kota Puruk Cahu, Murung Raya. Suku Bakumpai berasal bagian hulu dari bekas Distrik Bakumpai sedangkan di bagian hilirnya adalah pemukiman orang Barangas (Baraki). Sebelah utara (hulu) dari wilayah bekas Distrik Bakumpai adalah wilayah Distrik Mangkatip (Mengkatib) merupakan pemukiman suku Dayak Bara Dia atau Suku Dayak Mangkatip. Suku Bakumpai maupun suku Mangkatip merupakan keturunan suku Dayak Ngaju dari Tanah Dayak.
Menurut situs "Joshua Project" suku Bakumpai berjumlah 41.000 jiwa.
Populasi suku Bakumpai di Kalimantan Selatan pada sensus penduduk tahun 2000 oleh Badan Pusat Statistik berjumlah 20.609 jiwa. Di Kalimantan Selatan, suku Bakumpai terbanyak terdapat di kabupaten Barito Kuala sejumlah 18.892 jiwa (tahun 2000).
Kabupaten yang terdapat suku Bakumpai :
- Barito Kuala (kecamatan Bakumpai, Tabukan dan Kuripan)
- Barito Selatan
- Barito Utara
- Murung Raya
- Katingan, berupa enclave
- Sebagian suku Bakumpai bermigrasi dari hulu sungai Barito menuju hulu sungai Mahakam, yaitu ke Long Iram, Kutai Barat, Kalimantan Timur.
Hampir seluruh suku Bakumpai beragama Islam dan relatif sudah tidak nampak religi suku seperti pada kebanyakan suku Dayak (Kaharingan). Upacara adat yang berkaitan dengan sisa-sisa kepercayaan lama, misalnya ritual "Badewa" dan "Manyanggar Lebu".
Menurut Tjilik Riwut, Suku Dayak Bakumpai merupakan suku kekeluargaan yang termasuk golongan suku (kecil) Dayak Ngaju. Suku Dayak Ngaju merupakan salah satu dari 4 suku kecil bagian dari suku besar (rumpun) yang juga dinamakan Dayak Ngaju (Ot Danum).
Mungkin ada pula yang menamakan rumpun suku ini dengan nama rumpun Dayak Ot Danum. Penamaan ini juga dapat dipakai, sebab menurut Tjilik Riwut, suku Dayak Ngaju merupakan keturunan dari Dayak Ot Danum yang tinggal atau berasal dari hulu sungai-sungai yang terdapat di kawasan ini, tetapi sudah mengalami perubahan bahasa. Jadi suku Ot Danum merupakan induk suku, tetapi suku Dayak Ngaju merupakan suku yang dominan di kawasan ini.
Silsilah suku Bakumpai;
Suku Dayak (suku asal), terbagi suku besar (rumpun):
* Dayak Laut (Iban)
* Dayak Darat
* Dayak Apo Kayan / Kenyah-Bahau
* Dayak Murut
* Dayak Ngaju / Ot Danum, terbagi 4 suku kecil:
o Dayak Maanyan
o Dayak Lawangan
o Dayak Dusun
o Dayak Ngaju, terbagi beberapa suku kekeluargaan :
+ Dayak Bakumpai
+ dan lain-lain
Perbandingan hubungan suku Bakumpai dengan suku Dayak Ngaju, seperti hubungan suku Tengger dengan suku Jawa. Suku Dayak Ngaju merupakan suku induk bagi suku Bakumpai.
Organisasi suku Bakumpai yaitu "Kerukunan Keluarga Bakumpai" (KKB), merupakan partai lokal Kalimantan pada pemilu 1955.
Secara etimologis, bakumpai adalah julukan bagi suku dayak yang mendiami daerah aliran sungai barito. Bakumpai berasal dari kata ba (dalam bahasa banjar yang artinya memiliki) dan kumpai yang artinya adalah rumput.
Dari julukan ini, dapat dipahami bahwa suku ini mendiami wilayah yang memiliki banyak rumput. Menurut legenda, bahwa asal muasal suku dayak Bakumpai adalah dari suku dayak ngaju yang akhirnya berhijrah ke negeri yang sekarang disebut dengan negeri marabahan.
Pada mulanya mereka menganut agama nenek moyang yaitu Kaharingan, hal ini dapat dilihat dari peninggalan budaya yang sama seperti suku dayak lainnya. Kemudian mereka menjumpai akan wilayah itu seorang yang memiliki kharismatik, seorang yang apabila dia berdiri di suatu tanah, maka tanah itu akan ditumbuhi rumput. Orang tersebut tidak lain adalah Nabiyullah Khidir as. di dalam cerita mereka kemudian masuk agam islam dan berkembang biaklah mereka menjadi suatu suku. Suku Bakumpai adalah julukan bagi mereka, karena apabila mereka belajar agama di suatu daerah dengan gurunya khidir, maka tumbuhlah rumput dari daratan tersebut, sehingga kemudian mereka dikenal dengan suku bangsa Bakumpai.
Suku dayak Bakumpai dahulunya memiliki suatu kerajaan yang lebih tua dibandingkan dengan kerajaan daerah banjar, akan tetapi karena daya magis yang luar biasa akhirnya kerajaan ini berpindah ke sungai Barito dan rajanya dikenal dengan nama datuk Barito.
Dari daerah marabahan ini mereka menyebar ke aliran sungai Barito. Dari cerita rakyat, bahwa ada suatu daerah di kabupaten murung raya yaitu muara untu pada mulanya hanyalah suatu hutan belantara yang dikuasai oleh bangsa jin bernama untu. kemudian ada dari suku Bakumpai yang hijrah kesana dan mendiami daerah tersebut yang bernama Raghuy. sampai sekarang jika ditinjau dari silsilah orang yang mendiami muara untu, mereka menamakan moyang mereka Raguy.
Dayak Bidayuh
http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Dayak_Bidayuh
Suku Dayak Bidayuh merupakan sub-suku dari suku Dayak rumpun Klemantan yang merupakan sub-bagian dari kelompok Ribunic/Jangkang yang terdiri atas Dayak Ribun, Dayak Pandu, Pompakng, Lintang, Pangkodatn, Jangkang,(Simpanbk) dll.
Daerah domisili
Suku Dayak Bidayuh adalah salah satu dari tujuh suku besar Dayak di Kalimantan (Murut, Banuaka, Ngaju, Iban, Kayan, Ma'anyan, Bidayuh),yang sebagian besar populasinya mencakup wilayah kabupaten Sanggau, Ketapang, dan sebagiannya menyebar di wilayah Sekadau dan Bengkayang. Suku Dayak Bidayuh juga banyak terdapat di daerah Noyan,Kembayan, Sanggau, Kabupaten Sanggau. Di desa Tanjung Merpati, Ngalok, Mobui, Sejuah, Sungai Bun, Tanap, dan desa-desa sekitarnya adalah basis dari bidayuh ini. Ada beberapa ahli yang sempat meneliti asal-mula bidayuh ini. Tapi, tak satupun yang otentik dan menyangkut seluruh sendi kehidiupan masyarakat bidayuh. Menurut Prof. Richard McGinn suku dayak Bidayuh memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan suku dayak Bukar-Sadong. Kedua suku dayak ini memiliki hubungan kekerabatan pula dengan saudaranya suku Rejang di Sumatera. Itulah sebabnya mengapa di Sarawak ada nama sungai Rejang, sedangkan di Sumatera ada nama suku Rejang. Nenek moyang mereka hidup di antara tiga sungai yakni sungai Rejang, sungai Bukar dan sungai Sadong. Mengapa dan bagaimana? saudara suku dayak Bidayuh dan Bukar Sadong, yakni suku Rejang ini ada di Sumatera, masih perlu diteliti lebih lanjut?.
Mata pencaharian
Kebanyakan mata pencaharian penduduk adalah berladang berpindah, petani karet, buruh serabutan. Hanya sebagian kecil yang berprofesi sebagai pegawai pemerintah dan pedagang, apalagi pejabat pemerintah. Hanya pada dekade ini ada beberapa putra daerah yang menduduki jabatan-jabatan penting di pemerintahan.
Alasan utama mata pencaharian penduduk demikian adalah kurangnya akses ilmu pengetahuan dan teknologi serta minimnya sarana pendidikan disana. Bayangkan, anak-anak mesti berjalan sejauh puluhan kilometer dengan berjalan kaki untuk mencapai akses pendidikan. Tak mengherankan banyak orang tua yang lebih mementingkan pemenuhan kebutuhan ekonomi daripada pendidikan.
Ada satu hal yang menarik dari kehidupan masyarakat dayak Bidayuh. Keadaan alam yang tidak mendukung usaha pertanian disikapi dengan membuka ladang pertanian, untuk kemudian dibakar. hal ini dilakukan untuk menggemburkan tanah. Keadaan alam yang demikian diimbangi dengan aneka tanaman hutan yang bisa dimanfaatkan sebagai makanan terutama buah-buahan. Masyarakat Bidayuh sangat jarang mengkonsumsi sayuran. Makanan sehari-hari adalah nasi dan lauk pauk yang diolah sendiri, dengan bumbu-bumbu khas dayak. Makanan mereka didominasi oleh rasa asin dan asam. Saat musim buah tiba, sebagian besar profesi berubah menjadi petani buah dadakan. Biasanya buah yang dipetik dari hutan dibawa kep asar untuk dijual. Mereka telah mengenal uang seperti halnya kita.
Agama
Mayoritas penduduk Bidayuh menganut agama Kristen Katolik, sisanya adalah Kristen Protestan, sedangkan agama Islam nyaris tidak dianut sama sekali, ini dikarenakan bahwa ajaran agama Islam mengharamkan daging babi, sementara itu secara garis besar kehidupan masyarakat dayak berhubungan dengan daging babi sebagai makanan. Etnis tionghoa disana kebanyakan sudah kawin campur dengan penduduk asli.
Suku Dayak Bidayuh merupakan sub-suku dari suku Dayak rumpun Klemantan yang merupakan sub-bagian dari kelompok Ribunic/Jangkang yang terdiri atas Dayak Ribun, Dayak Pandu, Pompakng, Lintang, Pangkodatn, Jangkang,(Simpanbk) dll.
Daerah domisili
Suku Dayak Bidayuh adalah salah satu dari tujuh suku besar Dayak di Kalimantan (Murut, Banuaka, Ngaju, Iban, Kayan, Ma'anyan, Bidayuh),yang sebagian besar populasinya mencakup wilayah kabupaten Sanggau, Ketapang, dan sebagiannya menyebar di wilayah Sekadau dan Bengkayang. Suku Dayak Bidayuh juga banyak terdapat di daerah Noyan,Kembayan, Sanggau, Kabupaten Sanggau. Di desa Tanjung Merpati, Ngalok, Mobui, Sejuah, Sungai Bun, Tanap, dan desa-desa sekitarnya adalah basis dari bidayuh ini. Ada beberapa ahli yang sempat meneliti asal-mula bidayuh ini. Tapi, tak satupun yang otentik dan menyangkut seluruh sendi kehidiupan masyarakat bidayuh. Menurut Prof. Richard McGinn suku dayak Bidayuh memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan suku dayak Bukar-Sadong. Kedua suku dayak ini memiliki hubungan kekerabatan pula dengan saudaranya suku Rejang di Sumatera. Itulah sebabnya mengapa di Sarawak ada nama sungai Rejang, sedangkan di Sumatera ada nama suku Rejang. Nenek moyang mereka hidup di antara tiga sungai yakni sungai Rejang, sungai Bukar dan sungai Sadong. Mengapa dan bagaimana? saudara suku dayak Bidayuh dan Bukar Sadong, yakni suku Rejang ini ada di Sumatera, masih perlu diteliti lebih lanjut?.
Mata pencaharian
Kebanyakan mata pencaharian penduduk adalah berladang berpindah, petani karet, buruh serabutan. Hanya sebagian kecil yang berprofesi sebagai pegawai pemerintah dan pedagang, apalagi pejabat pemerintah. Hanya pada dekade ini ada beberapa putra daerah yang menduduki jabatan-jabatan penting di pemerintahan.
Alasan utama mata pencaharian penduduk demikian adalah kurangnya akses ilmu pengetahuan dan teknologi serta minimnya sarana pendidikan disana. Bayangkan, anak-anak mesti berjalan sejauh puluhan kilometer dengan berjalan kaki untuk mencapai akses pendidikan. Tak mengherankan banyak orang tua yang lebih mementingkan pemenuhan kebutuhan ekonomi daripada pendidikan.
Ada satu hal yang menarik dari kehidupan masyarakat dayak Bidayuh. Keadaan alam yang tidak mendukung usaha pertanian disikapi dengan membuka ladang pertanian, untuk kemudian dibakar. hal ini dilakukan untuk menggemburkan tanah. Keadaan alam yang demikian diimbangi dengan aneka tanaman hutan yang bisa dimanfaatkan sebagai makanan terutama buah-buahan. Masyarakat Bidayuh sangat jarang mengkonsumsi sayuran. Makanan sehari-hari adalah nasi dan lauk pauk yang diolah sendiri, dengan bumbu-bumbu khas dayak. Makanan mereka didominasi oleh rasa asin dan asam. Saat musim buah tiba, sebagian besar profesi berubah menjadi petani buah dadakan. Biasanya buah yang dipetik dari hutan dibawa kep asar untuk dijual. Mereka telah mengenal uang seperti halnya kita.
Agama
Mayoritas penduduk Bidayuh menganut agama Kristen Katolik, sisanya adalah Kristen Protestan, sedangkan agama Islam nyaris tidak dianut sama sekali, ini dikarenakan bahwa ajaran agama Islam mengharamkan daging babi, sementara itu secara garis besar kehidupan masyarakat dayak berhubungan dengan daging babi sebagai makanan. Etnis tionghoa disana kebanyakan sudah kawin campur dengan penduduk asli.
Selasa, 27 Juli 2010
Mandung
http://id.wikipedia.org/wiki/Mandung
Mandung adalah salah satu tahapan dalam upacara kematian agama Kaharingan, tetapi upacara ini bukan tahapan terakhir, tetapi dengan upacara ini arwah yang meninggal sudah memiliki jalan lapang menuju Lewu Tatau Je Dia Rumpang Tulang, Rundung Raja Isen Kamalesu Uhate, yaitu tempat yang mahamulia yang disediakan Tuhan. Upacara ini digelar selama lima hari lima malam. Setiap harinya sang basie (pendeta adat) terus menerus melantunkan mantra-mantra dalam bahasa Sangiang, yang hanya dimengerti oleh orang-orang tertentu. Siang malam juga warga satu desa menari-nari mengelilingi pandung untuk ikut menyemarakkan upacara tersebut.
Mandung adalah salah satu tahapan dalam upacara kematian agama Kaharingan, tetapi upacara ini bukan tahapan terakhir, tetapi dengan upacara ini arwah yang meninggal sudah memiliki jalan lapang menuju Lewu Tatau Je Dia Rumpang Tulang, Rundung Raja Isen Kamalesu Uhate, yaitu tempat yang mahamulia yang disediakan Tuhan. Upacara ini digelar selama lima hari lima malam. Setiap harinya sang basie (pendeta adat) terus menerus melantunkan mantra-mantra dalam bahasa Sangiang, yang hanya dimengerti oleh orang-orang tertentu. Siang malam juga warga satu desa menari-nari mengelilingi pandung untuk ikut menyemarakkan upacara tersebut.
Manasai
http://id.wikipedia.org/wiki/Manasai
Manasai adalah satu jenis tari pergaulan yang ada pada masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah. Tarian ini dilakukan oleh beberapa orang peserta, pria dan wanita yang berdiri berselang-seling antara pria dan wanita dalam satu lingkaran. Dimulai dengan semua menghadap ke dalam lingkaran, kemudian berputar ke arah kanan, sambil melakukan gerak maju bergerak berlawanan arah jarum jam. kemudian menghadap ke arah luar lingkaran, berputar lagi kearah kiri sambil melakukan gerak maju. Begitu seterusnya sambil berputar terus berlawanan arah jarum jam dengan mengikuti irama lagu pergaulan yang berjudul sama, lagu Manasai. Setiap gerakan kaki dalam tarian ini, mirip dengan gerakan dalam irama Cha-Cha. Tidak ada batasan usia dalam tarian ini. Siapapun dan dalam usia berapapun boleh bergabung. Bergabung ke dalam lingkaran tari dapat dilakukan kapan saja, mengikuti irama lagu. Dengan bertambahnya peserta yang ikut bergabung, maka lingkaran tari pun akan semakin membesar. Dan semakin banyak peserta tari, irama musik pun bisa semakin dipercepat, dan suasana gembira serta meriah pun akan terbentuk dan tercipta.
Manasai adalah satu jenis tari pergaulan yang ada pada masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah. Tarian ini dilakukan oleh beberapa orang peserta, pria dan wanita yang berdiri berselang-seling antara pria dan wanita dalam satu lingkaran. Dimulai dengan semua menghadap ke dalam lingkaran, kemudian berputar ke arah kanan, sambil melakukan gerak maju bergerak berlawanan arah jarum jam. kemudian menghadap ke arah luar lingkaran, berputar lagi kearah kiri sambil melakukan gerak maju. Begitu seterusnya sambil berputar terus berlawanan arah jarum jam dengan mengikuti irama lagu pergaulan yang berjudul sama, lagu Manasai. Setiap gerakan kaki dalam tarian ini, mirip dengan gerakan dalam irama Cha-Cha. Tidak ada batasan usia dalam tarian ini. Siapapun dan dalam usia berapapun boleh bergabung. Bergabung ke dalam lingkaran tari dapat dilakukan kapan saja, mengikuti irama lagu. Dengan bertambahnya peserta yang ikut bergabung, maka lingkaran tari pun akan semakin membesar. Dan semakin banyak peserta tari, irama musik pun bisa semakin dipercepat, dan suasana gembira serta meriah pun akan terbentuk dan tercipta.
Gawai Dayak
http://id.wikipedia.org/wiki/Gawai_Dayak
Gawai Dayak merupakan perayaan yang disambut di Kalimantan Barat dan Sarawak oleh kaum bumiputera Kalimantan Barat dan Sarawak, terutamanya Iban dan Dayak. Gawai Dayak merupakan hari menuai dan mula disambut secara besar-besaran semenjak 25 September 1964, apabila Gawai Dayak diisytiharkan sebagai hari perayaan rasmi. Sambutan Gawai Dayak pada peringkat negeri adalah pada 1 Jun 1965.
Gawai Dayak mempunyai beberapa upacara yang dijalankan di bandar dan rumah panjang. Persembahan pelbagai makanan dan tuan di persembahkan kepada dewa padi untuk hasil yang baik. Penyair akan membaca mentera yang khusus untuk upacara ini dan melumur darah ayam jantan pada bahan persembahan.
Selepas upacara ini, perayaan Gawai Dayak akan bermula secara resmi. Sebatang pokok yang dikenali sebagai 'ranyai' akan didirikan di tengah ruang dan dihiasi dengan makanan dan minuman. Mereka juga akan melawat kaum keluarga dan sahabat handai yang dikenali sebagai 'ngabang'. Pakaian tradisi akan dikenakan, dan perhiasan manik orang Ulu akan dikeluarkan untuk dipakai pada hari itu. Perawan Iban pula akan mengenakan perhiasan perak tradisi. Pesta Gawai Dayak ditutup berakhir dengan penurunan pokok ranyai tersebut.
Gawai Dayak merupakan perayaan yang disambut di Kalimantan Barat dan Sarawak oleh kaum bumiputera Kalimantan Barat dan Sarawak, terutamanya Iban dan Dayak. Gawai Dayak merupakan hari menuai dan mula disambut secara besar-besaran semenjak 25 September 1964, apabila Gawai Dayak diisytiharkan sebagai hari perayaan rasmi. Sambutan Gawai Dayak pada peringkat negeri adalah pada 1 Jun 1965.
Gawai Dayak mempunyai beberapa upacara yang dijalankan di bandar dan rumah panjang. Persembahan pelbagai makanan dan tuan di persembahkan kepada dewa padi untuk hasil yang baik. Penyair akan membaca mentera yang khusus untuk upacara ini dan melumur darah ayam jantan pada bahan persembahan.
Selepas upacara ini, perayaan Gawai Dayak akan bermula secara resmi. Sebatang pokok yang dikenali sebagai 'ranyai' akan didirikan di tengah ruang dan dihiasi dengan makanan dan minuman. Mereka juga akan melawat kaum keluarga dan sahabat handai yang dikenali sebagai 'ngabang'. Pakaian tradisi akan dikenakan, dan perhiasan manik orang Ulu akan dikeluarkan untuk dipakai pada hari itu. Perawan Iban pula akan mengenakan perhiasan perak tradisi. Pesta Gawai Dayak ditutup berakhir dengan penurunan pokok ranyai tersebut.
Badewa
http://id.wikipedia.org/wiki/Badewa
Badewa adalah upacara pengobatan pada suku Bakumpai di Kalimantan, Indonesia. Badewa pada dasarnya dilakukan dengan upacara yang diiringi dengan tetabuhan, namun ada juga tanpa alat seperti gong, sarun dan sebagainya. Badewa dilakukan dengan memanggil sahabat yakni sekutu seorang Tabit (Tabib) dari makhluk gaib. Para sahabat itulah yang merasuk dalam tubuh Tabit, guna melakukan penyembuhan.
Badewa adalah upacara pengobatan pada suku Bakumpai di Kalimantan, Indonesia. Badewa pada dasarnya dilakukan dengan upacara yang diiringi dengan tetabuhan, namun ada juga tanpa alat seperti gong, sarun dan sebagainya. Badewa dilakukan dengan memanggil sahabat yakni sekutu seorang Tabit (Tabib) dari makhluk gaib. Para sahabat itulah yang merasuk dalam tubuh Tabit, guna melakukan penyembuhan.
Perang Barito
http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Barito
Perang Barito adalah perang yang berlangsung di daerah Barito yang merupakan rangkaian Perang Banjar yang dipimpin Pangeran Antasari dan Pangeran Hidayatullah.
Hasil pertemuan bulan September 1859 antara Pangeran Hidayat, Pangeran Antasari, Kiai Demang Lehman dan tokoh perjuangan lainnya di daerah Kandangan menetapkan bahwa Pangeran Antasari memperkuat pertahanan di daerah Dusun Atas, sedangkan Tumenggung Jalil memperkuat pertahanan di Banua Lima, bersama Pangeran Hidayat. Di daerah Martapura dibawah pimpinan Demang Lehman dan tokoh-tokoh pimpinan masyarakat lainnya
26 Desember 1859
Pangeran Antasari bermukim di daerah suku Dayak Siung Dusun Atas mendampingi Pimpinan suku Dayak Siung Tumenggung Surapati. Komandan kapal “Onrust” Van del Velde mengantarkan Surapati melihat-lihat meriam, begitu pula anak buah Surapati diajak melihat-lihat kapal perang itu. Menurut kesaksian Haji Muhammad Talib yang selamat dengan melarikan diri bersembunyi menceritakan bahwa kejadian terjadi pada siang hari 26 Desember 1859. Serdadu Belanda tidak merasa curiga dan mereka tidak mempunyai senjata, kecuali Van del Velde yang memiliki pedang tetap dipinggangnya. Letnan Bangert juga tidak bersenjata. Anak buah Surapati sudah tidak sabar lagi dan ketika Gusti Lias dengan perahu berada di sisi kapal, Ibon putera Tumenggung Surapati menghunus mandaunya sambil berteriak teriakan perang dan ini berarti perang amok dimulai. Mandau Ibon mengenai Letnan Bangert dan jatuh tersungkur. Surapati menghunus mandaunya terhadap Van der Velde dan pertarungan pun terjadi dan berakhir dengan menjadi mayat Van der Velde. Selanjutnya kesaksian Haji Muhammad Thalib mengatakan bahwa teriakan perang itu menyebabkan anak buah Surapati berdatangan dengan perahunya mendekati kapal Onrust. Dalam waktu sekejab sekitar 400-500 orang anak buah Tumenggung Surapati telah berada di atas kapal dan pergumulan perkelahian terjadi. Dalam hal ini meriam dan senapan tidak berbunyi karena perkelahian terjadi dalam jarak dekat. Para pemimpin perang lainnya seperti Tumenggung Aripati, Tumenggung Mas Anom, Tumenggung Kertapati ikut mengamuk di atas kapal Onrust tersebut. Perkelahian itu berlangsung hampir satu jam. Semua opsir dan serdadu Belanda yang berjumlah 90 orang berhasil ditewaskan dan kapal perang Onrust berhasil ditenggelamkan. Yang kemudian diketahui selamat adalah penghubung perundingan Haji Muhammad Thalib yang kemudian menceritakan apa yang terjadi atas kapal Onrust dan baru 31 Desember 1859 sampai Banjarmasin. Semua isi kapal perang itu sebelum ditenggelamkan diangkut, senapan, lila, meriam dan mesiu yang kemudian digunakan Tumenggung Surapati dan Pangeran Antasari untuk menembaki kapal-kapal Belanda yang lewat. Menurut catatan perang Belanda, bahwa kerugian yang paling besar diderita Belanda adalah dalam Perang Banjar, karena kapal perang berisi senjata beserta serdadunya terkubur bersama-sama ke dasar sungai Barito. Tenggelamnya kapal perang “Onrust” sangat mengejutkan dan menggemparkan pihak Belanda, sebaliknya menimbulkan semangat juang yang tinggi.
Peranan Tumenggung Surapati
Tumenggung Surapati adalah seorang putera suku Dayak Siang dilahirkan dilembah Sungai Kahayan, sekarang termasuk wilayah Kalimantan Tengah. Sebagai seorang kepala suku, dia terkenal dengan gelar Kiai Tumenggung Pati Jaya Raja. Tumenggung Surapati berjuang bersama-sama Pangeran Antasari dan dibantu oleh tokoh-tokoh pejuang lainnya seperti Tumenggung Singapati, Tumenggung Kartapati, Tumenggung Mangkusari dalam perang Barito untuk menghancurkan kekuasaan kolonialisme Belanda di daerah itu. Merekalah tokoh-tokoh pejuang yang menggerakkan rakyat Barito melawan Belanda dalam Perang Barito (1865-1905).
Tumenggung Surapati dengan anak buahnya suku Dayak Siang telah memeluk agama Islam. Kedua tokoh pimpinan perjuangan ini diikat dalam hubungan kekeluargaan dengan mengawinkan putera Tumenggung Surapati yang bernama Tumenggung Jidan dengan cucu Pangeran Antasari. Tumenggung Surapati dengan anak buahnya bersama Pangeran Antasari telah mengangkat sumpah bersama-sama berjuang menghalau penjajah Belanda. Mereka akan berjuang tanpa pamrih dan tanpa kompromi dengan tekad : Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing. Belanda berusaha dengan segala taktik liciknya untuk memikat hati Tumenggung Surapati agar Tumenggung ini tidak melakukan perlawanan terhadap Belanda dan bersedia membantu Belanda untuk menangkap Pangeran Antasari. Tumenggung Surapati sebagaimana suku Dayak lainnya sangat setia pada sumpah yang telah diucapkannya dan apapun yang akan terjadi mereka tidak akan menghianati sumpah tersebut. Siasat licik Belanda akan dibalas dengan siasat licik pula, dimikian tekad Tumenggung Surapati dengan anak buahnya. Belanda mempunyai keyakinan bahwa siasatnya berhasil apalagi Tumenggung Surapati telah bersahabat dengan Belanda sebelumnya. Tumenggung Surapati pernah menjamu dengan segala kebesaran dan penuh keramahan terhadap rombongan Civiel Gezaghebber dan Komandan Serdadu Marabahan Letnan I Bangert dan stuurman kapal Cipanas J.J Meyer pada tahun 1857 dua tahun sebelum terjadinya Perang Banjar. Persahabatan dengan Belanda ini menimbulkan kebencian yang mendalam di hati Tumenggung Surapati setelah serdadu Belanda membakar rumah dan kebun rakyat yang tidak berdosa setelah terjadi Perang Banjar. Kebaikan hati Belanda hanya tipu muslihat untuk memikat rakyat agar berpihak pada penjajah. Perang Barito terjadi di sepanjang Sungai Barito dan sekitarnya. Perang ini merupakan bukti kebencian seluruh rakyat dalam wilayah Kerajaan Banjar terhadap penjajah Belanda.
Penyerbuan Gudang Garam Belanda 24 Agustus 1859
Perang ini adalah Perang Banjar yang terjadi di sepanjang sungai Barito, dan diawali dengan penyerbuan gudang garam Belanda di Pulau Petak, sebelah hulu dari Kuala Kapuas. Gudang Pulau Petak terletak di tepi sungai sedikit lebih tinggi dari kampung di sekitarnya. Gudang garam ini dijaga oleh Letnan Bichon dengan 60 orang serdadu Belanda. Kapal perang Monterado ikut berjaga-jaga di sungai. Pada malam tanggal 23 ke 24 Agustus 1859 Pulau Petak diserbu oleh Tumenggung Surapati dan Pembakal Sulil. Letnan Bichon tewas kena tobak dalam penyerangan ini. Belanda berusaha membujuk Tumenggung Surapati agar membantu Belanda menangkap Pangeran Antasari. Setelah usaha pertama gagal, pada bulan Desember 1859 kembali kapal Onrust menuju Muara Teweh. Kapal Onrust berhenti di Lalutong Tuwur sekitar 3 km sebelum sampai Muara Teweh, dan dari sini Belanda mengirim utusan agar Tumenggung Surapati berkenan datang di kapal Onrust.
26 Desember 1859
Pada tanggal 26 Desember 1859 dengan sebuah perahu besar dan diiringi dengan beberapa perahu kecil, perahu-perahu tersebut tidak beratap. Tumenggung Surapati dengan 15 orang pengiring yang terdiri dari keluarga dan panakawan. Perahu-perahu lainnya berlabuh di sebelah hulu dari kapal Onrust. Tumenggung Surapati disambut oleh Letnan Bangert yang sudah lama kenal karena pernah menjadi tamu Tumenggung Surapati pada tahun 1857. Tumenggung Surapati masuk ke dalam kamar untuk berunding disertai 4 orang anak dan menantunya. Sepuluh panakawan lainnya beramah tamah bersama para opsir di atas dek kapal. Dalam perundingan itu Belanda menjanjikan hadiah-hadiah antara lain memperlihatkan surat pengangkatan sebagai Pangeran. Keramah-tamahan yang diperlihatkan dan sikap yang meyakinkan menyebabkan Letnan Bangert merasa puas akan keberhasilan misinya. Dalam perundingan itu Letnan Bangert didampingi oleh Haji Muhammad Thalib sebagai juru runding dan perantara yang menghubungkan pihak Belanda dengan Tumenggung Surapati. Haji Muhammad Thalib sebelumnya sudah curiga dengan perahu-perahu yang ditumpangi Tumenggung Surapati dengan pengikutnya. Perahu-perahu tersebut tidak memakai atap, sedangkan kebiasaannya perahu mempunyai atap. Tetapi pihak Belanda tidak mengerti dengan kebiasaan orang-orang Dayak dengan perahu tanpa atap tersebut, karena Tumenggung Surapati dengan pengikutnya memperlihatkan keramah tamahannya. Perahu tanpa atap suatu pertanda sikap permusuhan dan sangat menggembirakan bagi seluruh rakyat yang berjuang melawan Belanda.
Pertempuran di Leogong 11 Ferbruari 1860
Akibat kekalahan yang sangat memalukan ini pihak Belanda mengirim serdadu sebagai ekspedisi dengan perintah bunuh semua Orang Dayak dan Melayu (Banjar) yang membantu menenggelamkan kapal perang Onrust. Untuk keperluan ini G.M. Verspyck memberangkatkan kapal perang Suriname, Boni dan beberapa kapal pembantu pada tanggal 27 Januari 1860. Kapal ini membawa 300 serdadu bersenjata lengkap, diantaranya 10 serdadu Eropa, beberapa pucuk meriam dan mortir. Pimpinan ekspedisi Letnan Laut de Haes melaksanakan perintah dengan membabi buta, membakar semua kampung yang dilewati dan membunuh rakyat yang ditemukan. Ketika sampai di Lalutong Tuwur ternyata kampung itu telah dikosongkan penduduk. Kapal terus berlayar ke arah hulu sambil menembaki tempat-tempat yang dicurigai. Kapal Suriname dan Boni melewati kampung Leogong yang letaknya agak rendah. Dengan tidak diduga Belanda, meriam yang beratnya 30 pond menembak ke arah lambung kapal Suriname. Korbanpun berjatuhan. Kapal itupun miring karena tembakan itu mengenai kedua ketel (boiler) sehingga mesin kapalpun mati. Baru menjelang tengah malam barulah kapal itu dihanyutkan dan ekspedisi itu pulang tanpa membawa hasil apa-apa. Pertempuran di Leogong ini terjadi pada 11 Februari 1860
22 Februari 1860
Pada 22 Februari 1860, kembali kapal perang Celebes dan Monterado dikirim menyerang benteng Leogong. Benteng ini dikepung dengan dua buah kapal perang di hulu dan disebelah hilir serta 200 serdadu didaratkan. Pertempuran sengit pun terjadi sepanjang sungai Barito. Menyadari terhadap pengepungan ini Pangeran Antasari dan Tumenggung Surapati melakukan siasat mundur untuk menghindarkan banyaknya jatuh korban. Perang ini berakhir tanpa hasil yang memuaskan bagi Belanda. Untuk mengantisipasi kapal-kapal perang Belanda, Tumenggung Surapati dan Pangeran Antasari mengerahkan beratus-ratus perahu dengan sebuah perahu komando yang besar. Pada perahu besar ini dipancangkan bendera kuning. Armada perahu ini disertai pula dengan beberapa buah lanting kotta-mara (katamaran) semacam panser terapung. Bentuk kotta-mara ini sangat unik karena dibuat dari susunan bambu yang membentuk sebuah benteng terapung. Kotta-mara dilengkapi dengan beberapa pucuk meriam dan lila. Selain kapal perang “Onrust” yang berhasil ditenggelamkan pada 26 Desember 1859, sebelumnya yaitu pada bulan Juli 1859 juga ditenggelamkan kapal perang Cipanas dalam pertempuran di sepanjang Barito di sekitar pulau Kanamit.
Bantuan Suku Dayak terhadap Perang Banjar
Perang Banjar yang terjadi di Barito, memberikan posisi penting terhadap keberpihakan Dayak. Seperti juga masyarakat Banjar maka masyarakat Dayak juga terbelah, sebagian memihak Belanda karena mereka diangkat oleh Belanda sebagai bagian dari pemerintahan Sultan Tamjidullah II yang didukung Belanda. Kiai Raden Adipati Danu Raja sebagai gubernur Banua Lima berada di pihak Sultan Tamjidullah II dan Belanda, demikian kepala-kepala pemerintahan di negeri Tanah Bumbu dan sultan Kutai yang berada di bawah tekanan Belanda. Sutaono yang berasal dari desa Tewang (Tamiang Layang) seorang kepala suku dayak Maanyandan Temanggung Nikodemus Jaya Negara seorang kepala suku Dayak Ngaju. Pangeran Antasari dan pengikutnya serta keturunannya menghadapi tekanan yang berat dari saudara sebangsa baik dari suku Banjar, Dayak, Bugis, Kutai yang sudah berada dalam gengaman kolonialisme Belanda. Sultan Kutai membantu Belanda menangkap Pangeran Perbatasari (Sultan Muda) yang akhirnya diasingkan ke Kampung Jawa Tondano. Keturunan Tumenggung Surapati yang tertangkap diasingkan ke Bengkulu.
Untuk menghadapi perang ini sebanyak 142 militer Belanda diterjunkan ditambah pasukan Dayak yang disiapkan Belanda berjumlah 426 terdiri :
* Orang Maanyan Sihong dibawah pimpinan Suta Ono berjumlah : 224
* Orang Maanyan Patai dibawah pimpinan Tumenggung Jaya Karti (Jelan) : 176
* Orang Dayak Katingan sebanyak : 26
Perang Barito adalah perang yang berlangsung di daerah Barito yang merupakan rangkaian Perang Banjar yang dipimpin Pangeran Antasari dan Pangeran Hidayatullah.
Hasil pertemuan bulan September 1859 antara Pangeran Hidayat, Pangeran Antasari, Kiai Demang Lehman dan tokoh perjuangan lainnya di daerah Kandangan menetapkan bahwa Pangeran Antasari memperkuat pertahanan di daerah Dusun Atas, sedangkan Tumenggung Jalil memperkuat pertahanan di Banua Lima, bersama Pangeran Hidayat. Di daerah Martapura dibawah pimpinan Demang Lehman dan tokoh-tokoh pimpinan masyarakat lainnya
26 Desember 1859
Pangeran Antasari bermukim di daerah suku Dayak Siung Dusun Atas mendampingi Pimpinan suku Dayak Siung Tumenggung Surapati. Komandan kapal “Onrust” Van del Velde mengantarkan Surapati melihat-lihat meriam, begitu pula anak buah Surapati diajak melihat-lihat kapal perang itu. Menurut kesaksian Haji Muhammad Talib yang selamat dengan melarikan diri bersembunyi menceritakan bahwa kejadian terjadi pada siang hari 26 Desember 1859. Serdadu Belanda tidak merasa curiga dan mereka tidak mempunyai senjata, kecuali Van del Velde yang memiliki pedang tetap dipinggangnya. Letnan Bangert juga tidak bersenjata. Anak buah Surapati sudah tidak sabar lagi dan ketika Gusti Lias dengan perahu berada di sisi kapal, Ibon putera Tumenggung Surapati menghunus mandaunya sambil berteriak teriakan perang dan ini berarti perang amok dimulai. Mandau Ibon mengenai Letnan Bangert dan jatuh tersungkur. Surapati menghunus mandaunya terhadap Van der Velde dan pertarungan pun terjadi dan berakhir dengan menjadi mayat Van der Velde. Selanjutnya kesaksian Haji Muhammad Thalib mengatakan bahwa teriakan perang itu menyebabkan anak buah Surapati berdatangan dengan perahunya mendekati kapal Onrust. Dalam waktu sekejab sekitar 400-500 orang anak buah Tumenggung Surapati telah berada di atas kapal dan pergumulan perkelahian terjadi. Dalam hal ini meriam dan senapan tidak berbunyi karena perkelahian terjadi dalam jarak dekat. Para pemimpin perang lainnya seperti Tumenggung Aripati, Tumenggung Mas Anom, Tumenggung Kertapati ikut mengamuk di atas kapal Onrust tersebut. Perkelahian itu berlangsung hampir satu jam. Semua opsir dan serdadu Belanda yang berjumlah 90 orang berhasil ditewaskan dan kapal perang Onrust berhasil ditenggelamkan. Yang kemudian diketahui selamat adalah penghubung perundingan Haji Muhammad Thalib yang kemudian menceritakan apa yang terjadi atas kapal Onrust dan baru 31 Desember 1859 sampai Banjarmasin. Semua isi kapal perang itu sebelum ditenggelamkan diangkut, senapan, lila, meriam dan mesiu yang kemudian digunakan Tumenggung Surapati dan Pangeran Antasari untuk menembaki kapal-kapal Belanda yang lewat. Menurut catatan perang Belanda, bahwa kerugian yang paling besar diderita Belanda adalah dalam Perang Banjar, karena kapal perang berisi senjata beserta serdadunya terkubur bersama-sama ke dasar sungai Barito. Tenggelamnya kapal perang “Onrust” sangat mengejutkan dan menggemparkan pihak Belanda, sebaliknya menimbulkan semangat juang yang tinggi.
Peranan Tumenggung Surapati
Tumenggung Surapati adalah seorang putera suku Dayak Siang dilahirkan dilembah Sungai Kahayan, sekarang termasuk wilayah Kalimantan Tengah. Sebagai seorang kepala suku, dia terkenal dengan gelar Kiai Tumenggung Pati Jaya Raja. Tumenggung Surapati berjuang bersama-sama Pangeran Antasari dan dibantu oleh tokoh-tokoh pejuang lainnya seperti Tumenggung Singapati, Tumenggung Kartapati, Tumenggung Mangkusari dalam perang Barito untuk menghancurkan kekuasaan kolonialisme Belanda di daerah itu. Merekalah tokoh-tokoh pejuang yang menggerakkan rakyat Barito melawan Belanda dalam Perang Barito (1865-1905).
Tumenggung Surapati dengan anak buahnya suku Dayak Siang telah memeluk agama Islam. Kedua tokoh pimpinan perjuangan ini diikat dalam hubungan kekeluargaan dengan mengawinkan putera Tumenggung Surapati yang bernama Tumenggung Jidan dengan cucu Pangeran Antasari. Tumenggung Surapati dengan anak buahnya bersama Pangeran Antasari telah mengangkat sumpah bersama-sama berjuang menghalau penjajah Belanda. Mereka akan berjuang tanpa pamrih dan tanpa kompromi dengan tekad : Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing. Belanda berusaha dengan segala taktik liciknya untuk memikat hati Tumenggung Surapati agar Tumenggung ini tidak melakukan perlawanan terhadap Belanda dan bersedia membantu Belanda untuk menangkap Pangeran Antasari. Tumenggung Surapati sebagaimana suku Dayak lainnya sangat setia pada sumpah yang telah diucapkannya dan apapun yang akan terjadi mereka tidak akan menghianati sumpah tersebut. Siasat licik Belanda akan dibalas dengan siasat licik pula, dimikian tekad Tumenggung Surapati dengan anak buahnya. Belanda mempunyai keyakinan bahwa siasatnya berhasil apalagi Tumenggung Surapati telah bersahabat dengan Belanda sebelumnya. Tumenggung Surapati pernah menjamu dengan segala kebesaran dan penuh keramahan terhadap rombongan Civiel Gezaghebber dan Komandan Serdadu Marabahan Letnan I Bangert dan stuurman kapal Cipanas J.J Meyer pada tahun 1857 dua tahun sebelum terjadinya Perang Banjar. Persahabatan dengan Belanda ini menimbulkan kebencian yang mendalam di hati Tumenggung Surapati setelah serdadu Belanda membakar rumah dan kebun rakyat yang tidak berdosa setelah terjadi Perang Banjar. Kebaikan hati Belanda hanya tipu muslihat untuk memikat rakyat agar berpihak pada penjajah. Perang Barito terjadi di sepanjang Sungai Barito dan sekitarnya. Perang ini merupakan bukti kebencian seluruh rakyat dalam wilayah Kerajaan Banjar terhadap penjajah Belanda.
Penyerbuan Gudang Garam Belanda 24 Agustus 1859
Perang ini adalah Perang Banjar yang terjadi di sepanjang sungai Barito, dan diawali dengan penyerbuan gudang garam Belanda di Pulau Petak, sebelah hulu dari Kuala Kapuas. Gudang Pulau Petak terletak di tepi sungai sedikit lebih tinggi dari kampung di sekitarnya. Gudang garam ini dijaga oleh Letnan Bichon dengan 60 orang serdadu Belanda. Kapal perang Monterado ikut berjaga-jaga di sungai. Pada malam tanggal 23 ke 24 Agustus 1859 Pulau Petak diserbu oleh Tumenggung Surapati dan Pembakal Sulil. Letnan Bichon tewas kena tobak dalam penyerangan ini. Belanda berusaha membujuk Tumenggung Surapati agar membantu Belanda menangkap Pangeran Antasari. Setelah usaha pertama gagal, pada bulan Desember 1859 kembali kapal Onrust menuju Muara Teweh. Kapal Onrust berhenti di Lalutong Tuwur sekitar 3 km sebelum sampai Muara Teweh, dan dari sini Belanda mengirim utusan agar Tumenggung Surapati berkenan datang di kapal Onrust.
26 Desember 1859
Pada tanggal 26 Desember 1859 dengan sebuah perahu besar dan diiringi dengan beberapa perahu kecil, perahu-perahu tersebut tidak beratap. Tumenggung Surapati dengan 15 orang pengiring yang terdiri dari keluarga dan panakawan. Perahu-perahu lainnya berlabuh di sebelah hulu dari kapal Onrust. Tumenggung Surapati disambut oleh Letnan Bangert yang sudah lama kenal karena pernah menjadi tamu Tumenggung Surapati pada tahun 1857. Tumenggung Surapati masuk ke dalam kamar untuk berunding disertai 4 orang anak dan menantunya. Sepuluh panakawan lainnya beramah tamah bersama para opsir di atas dek kapal. Dalam perundingan itu Belanda menjanjikan hadiah-hadiah antara lain memperlihatkan surat pengangkatan sebagai Pangeran. Keramah-tamahan yang diperlihatkan dan sikap yang meyakinkan menyebabkan Letnan Bangert merasa puas akan keberhasilan misinya. Dalam perundingan itu Letnan Bangert didampingi oleh Haji Muhammad Thalib sebagai juru runding dan perantara yang menghubungkan pihak Belanda dengan Tumenggung Surapati. Haji Muhammad Thalib sebelumnya sudah curiga dengan perahu-perahu yang ditumpangi Tumenggung Surapati dengan pengikutnya. Perahu-perahu tersebut tidak memakai atap, sedangkan kebiasaannya perahu mempunyai atap. Tetapi pihak Belanda tidak mengerti dengan kebiasaan orang-orang Dayak dengan perahu tanpa atap tersebut, karena Tumenggung Surapati dengan pengikutnya memperlihatkan keramah tamahannya. Perahu tanpa atap suatu pertanda sikap permusuhan dan sangat menggembirakan bagi seluruh rakyat yang berjuang melawan Belanda.
Pertempuran di Leogong 11 Ferbruari 1860
Akibat kekalahan yang sangat memalukan ini pihak Belanda mengirim serdadu sebagai ekspedisi dengan perintah bunuh semua Orang Dayak dan Melayu (Banjar) yang membantu menenggelamkan kapal perang Onrust. Untuk keperluan ini G.M. Verspyck memberangkatkan kapal perang Suriname, Boni dan beberapa kapal pembantu pada tanggal 27 Januari 1860. Kapal ini membawa 300 serdadu bersenjata lengkap, diantaranya 10 serdadu Eropa, beberapa pucuk meriam dan mortir. Pimpinan ekspedisi Letnan Laut de Haes melaksanakan perintah dengan membabi buta, membakar semua kampung yang dilewati dan membunuh rakyat yang ditemukan. Ketika sampai di Lalutong Tuwur ternyata kampung itu telah dikosongkan penduduk. Kapal terus berlayar ke arah hulu sambil menembaki tempat-tempat yang dicurigai. Kapal Suriname dan Boni melewati kampung Leogong yang letaknya agak rendah. Dengan tidak diduga Belanda, meriam yang beratnya 30 pond menembak ke arah lambung kapal Suriname. Korbanpun berjatuhan. Kapal itupun miring karena tembakan itu mengenai kedua ketel (boiler) sehingga mesin kapalpun mati. Baru menjelang tengah malam barulah kapal itu dihanyutkan dan ekspedisi itu pulang tanpa membawa hasil apa-apa. Pertempuran di Leogong ini terjadi pada 11 Februari 1860
22 Februari 1860
Pada 22 Februari 1860, kembali kapal perang Celebes dan Monterado dikirim menyerang benteng Leogong. Benteng ini dikepung dengan dua buah kapal perang di hulu dan disebelah hilir serta 200 serdadu didaratkan. Pertempuran sengit pun terjadi sepanjang sungai Barito. Menyadari terhadap pengepungan ini Pangeran Antasari dan Tumenggung Surapati melakukan siasat mundur untuk menghindarkan banyaknya jatuh korban. Perang ini berakhir tanpa hasil yang memuaskan bagi Belanda. Untuk mengantisipasi kapal-kapal perang Belanda, Tumenggung Surapati dan Pangeran Antasari mengerahkan beratus-ratus perahu dengan sebuah perahu komando yang besar. Pada perahu besar ini dipancangkan bendera kuning. Armada perahu ini disertai pula dengan beberapa buah lanting kotta-mara (katamaran) semacam panser terapung. Bentuk kotta-mara ini sangat unik karena dibuat dari susunan bambu yang membentuk sebuah benteng terapung. Kotta-mara dilengkapi dengan beberapa pucuk meriam dan lila. Selain kapal perang “Onrust” yang berhasil ditenggelamkan pada 26 Desember 1859, sebelumnya yaitu pada bulan Juli 1859 juga ditenggelamkan kapal perang Cipanas dalam pertempuran di sepanjang Barito di sekitar pulau Kanamit.
Bantuan Suku Dayak terhadap Perang Banjar
Perang Banjar yang terjadi di Barito, memberikan posisi penting terhadap keberpihakan Dayak. Seperti juga masyarakat Banjar maka masyarakat Dayak juga terbelah, sebagian memihak Belanda karena mereka diangkat oleh Belanda sebagai bagian dari pemerintahan Sultan Tamjidullah II yang didukung Belanda. Kiai Raden Adipati Danu Raja sebagai gubernur Banua Lima berada di pihak Sultan Tamjidullah II dan Belanda, demikian kepala-kepala pemerintahan di negeri Tanah Bumbu dan sultan Kutai yang berada di bawah tekanan Belanda. Sutaono yang berasal dari desa Tewang (Tamiang Layang) seorang kepala suku dayak Maanyandan Temanggung Nikodemus Jaya Negara seorang kepala suku Dayak Ngaju. Pangeran Antasari dan pengikutnya serta keturunannya menghadapi tekanan yang berat dari saudara sebangsa baik dari suku Banjar, Dayak, Bugis, Kutai yang sudah berada dalam gengaman kolonialisme Belanda. Sultan Kutai membantu Belanda menangkap Pangeran Perbatasari (Sultan Muda) yang akhirnya diasingkan ke Kampung Jawa Tondano. Keturunan Tumenggung Surapati yang tertangkap diasingkan ke Bengkulu.
Untuk menghadapi perang ini sebanyak 142 militer Belanda diterjunkan ditambah pasukan Dayak yang disiapkan Belanda berjumlah 426 terdiri :
* Orang Maanyan Sihong dibawah pimpinan Suta Ono berjumlah : 224
* Orang Maanyan Patai dibawah pimpinan Tumenggung Jaya Karti (Jelan) : 176
* Orang Dayak Katingan sebanyak : 26
Tanah Dayak
http://id.wikipedia.org/wiki/Tanah_Dayak
Tanah Biaju atau Tanah Dayak adalah Afdeeling Dajaklandeen (Afdeeling Tanah-tanah Dayak).
Staatblad tahun 1898 no.178
Sesuai Staatblad tahun 1898 no. 178 bahwa Afdeeling Dajaklandeen, dengan ibukota Kwala Kapoeas (Kuala Kapuas) terdiri ditrik-distrik :
1. Groote Dajak (Dayak Besar) terbagi lagi dalam onderdistrik-onderdistrik :
1. Beneden Kahajan (Kahayan Kuala), Mideen Kahajan (Kahayan Tengah), Boven Kahajan
(Kahayan Hulu)
2. Roengan (Rungan)
3. Manoehing (Manuhing)
2. Districk Kleine Dajak (Dayak Kecil) terbagi atas onderdistrik :
1. Beneden Kapoeas (Kapuas Kuala)
2. Mideen Kapoeas (Kapuas Tengah)
3. Boven Kapoeas (Kapuas Hulu)
Hikayat Banjar abad ke-14
Pada abad ke-14 menurut Hikayat Banjar, Tanah Biaju ibukotanya Kuala Biaju (Kuala Kapuas) Daerah ini terdiri atas dua daerah aliran sungai yang besar yaitu :
1. Batang Biaju Kecil sebutan sungai Kapuas (Kalteng), dimana terdapat Kuala Biaju.
2. Batang Biaju Besar sebutan sungai Kahayan
Belanda kemudian mengganti istilah Biaju dengan Dayak, sehingga nama kedua buah sungai tersebut juga berubah menjadi :
1. Batang Biaju Kecil menjadi sungai Dayak Kecil
2. Batang Biaju Besar menjadi sungai Dayak Besar
Masa Kini
Wilayah ini meliputi Daerah Aliran Sungai Kapuas dan Sungai Kahayan di Kalimantan Tengah, dewasa ini berkembang menjadi 4 daerah yaitu :
1. Palangkaraya
2. Pulang Pisau
3. Kabupaten Kapuas).
4. Gunung Mas
Tanah Biaju atau Tanah Dayak adalah Afdeeling Dajaklandeen (Afdeeling Tanah-tanah Dayak).
Staatblad tahun 1898 no.178
Sesuai Staatblad tahun 1898 no. 178 bahwa Afdeeling Dajaklandeen, dengan ibukota Kwala Kapoeas (Kuala Kapuas) terdiri ditrik-distrik :
1. Groote Dajak (Dayak Besar) terbagi lagi dalam onderdistrik-onderdistrik :
1. Beneden Kahajan (Kahayan Kuala), Mideen Kahajan (Kahayan Tengah), Boven Kahajan
(Kahayan Hulu)
2. Roengan (Rungan)
3. Manoehing (Manuhing)
2. Districk Kleine Dajak (Dayak Kecil) terbagi atas onderdistrik :
1. Beneden Kapoeas (Kapuas Kuala)
2. Mideen Kapoeas (Kapuas Tengah)
3. Boven Kapoeas (Kapuas Hulu)
Hikayat Banjar abad ke-14
Pada abad ke-14 menurut Hikayat Banjar, Tanah Biaju ibukotanya Kuala Biaju (Kuala Kapuas) Daerah ini terdiri atas dua daerah aliran sungai yang besar yaitu :
1. Batang Biaju Kecil sebutan sungai Kapuas (Kalteng), dimana terdapat Kuala Biaju.
2. Batang Biaju Besar sebutan sungai Kahayan
Belanda kemudian mengganti istilah Biaju dengan Dayak, sehingga nama kedua buah sungai tersebut juga berubah menjadi :
1. Batang Biaju Kecil menjadi sungai Dayak Kecil
2. Batang Biaju Besar menjadi sungai Dayak Besar
Masa Kini
Wilayah ini meliputi Daerah Aliran Sungai Kapuas dan Sungai Kahayan di Kalimantan Tengah, dewasa ini berkembang menjadi 4 daerah yaitu :
1. Palangkaraya
2. Pulang Pisau
3. Kabupaten Kapuas).
4. Gunung Mas
Kaharingan
http://id.wikipedia.org/wiki/Kaharingan
Kaharingan/Hindu Kaharingan adalah religi suku atau kepercayaan tradisional suku Dayak di Kalimantan. Istilah kaharingan artinya tumbuh atau hidup, seperti dalam istilah danum kaharingan belum (air kehidupan), maksudnya agama suku atau kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Ranying), yang hidup dan tumbuh secara turun temurun dan dihayati oleh masyarakat Dayak di Kalimantan. Pemerintah Indonesia mewajibkan penduduk dan warganegara untuk menganut salah satu agama yang diakui oleh pemerintah Republik Indonesia. Oleh sebab itu kepercayaan Kaharingan dan religi suku yang lainnya seperti Tollotang (Hindu Tollotang) pada suku Bugis, dimasukkan dalam kategori agama Hindu, mengingat adanya persamaan dalam penggunaan sarana kehidupan dalam melaksanakan ritual untuk korban (sesaji) yang dalam agama Hindu disebut Yadnya. Jadi mempunyai tujuan yang sama untuk mencapai Tuhan Yang Maha Esa, hanya berbeda kemasannya. Tuhan Yang Maha Esa dalam istilah agama Kaharingan disebut Ranying.
Kaharingan ini pertama kali diperkenalkan oleh Tjilik Riwut tahun 1944, saat Ia menjabat Residen Sampit yang berkedudukan di Banjarmasin. Tahun 1945, pendudukan Jepang mengajukan Kaharingan sebagai penyebutan agama Dayak. Sementara pada masa Orde Baru, para penganutnya berintegrasi dengan Hindu, menjadi Hindu Kaharingan. Pemilihan integrasi ke Hindu ini bukan karena kesamaan ritualnya. Tapi dikarenakan Hindu adalah agama tertua di Kalimantan.
Lambat laun, Kaharingan mempunyai tempat ibadah yg dinamakan Balai Basarah atau BALAI KAHARINGAN. Kitab suci agama mereka adalah panaturan dan buku-buku agama lain, seperti Talatah Basarah (Kumpulan Doa), Tawar (petunjuk tatacara meminta pertolongan Tuhan dgn upacara menabur beras), dan sebagainya.
Dewasa ini, suku Dayak sudah diperbolehkan mencantumkan agama Kaharingan dalam Kartu Tanda Penduduk, dengan demikian suku Dayak yang melakukan upacara perkawinan menurut adat Kaharingan, diakui pula pencatatan perkawinan tersebut oleh negara. Hingga tahun 2007, Badan Pusat Statistik Kalteng mencatat ada 223.349 orang penganut Kaharingan di Indonesia
Tetapi di Malaysia Timur (Sarawak, Sabah), nampaknya kepercayaan Dayak ini tidak diakui sebagai bagian umat beragama Hindu, jadi dianggap sebagai masyarakat yang belum menganut suatu agama apapun. Organisasi alim ulama Hindu Kaharingan adalah Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan (MBAHK) pusatnya di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
Kaharingan/Hindu Kaharingan adalah religi suku atau kepercayaan tradisional suku Dayak di Kalimantan. Istilah kaharingan artinya tumbuh atau hidup, seperti dalam istilah danum kaharingan belum (air kehidupan), maksudnya agama suku atau kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Ranying), yang hidup dan tumbuh secara turun temurun dan dihayati oleh masyarakat Dayak di Kalimantan. Pemerintah Indonesia mewajibkan penduduk dan warganegara untuk menganut salah satu agama yang diakui oleh pemerintah Republik Indonesia. Oleh sebab itu kepercayaan Kaharingan dan religi suku yang lainnya seperti Tollotang (Hindu Tollotang) pada suku Bugis, dimasukkan dalam kategori agama Hindu, mengingat adanya persamaan dalam penggunaan sarana kehidupan dalam melaksanakan ritual untuk korban (sesaji) yang dalam agama Hindu disebut Yadnya. Jadi mempunyai tujuan yang sama untuk mencapai Tuhan Yang Maha Esa, hanya berbeda kemasannya. Tuhan Yang Maha Esa dalam istilah agama Kaharingan disebut Ranying.
Kaharingan ini pertama kali diperkenalkan oleh Tjilik Riwut tahun 1944, saat Ia menjabat Residen Sampit yang berkedudukan di Banjarmasin. Tahun 1945, pendudukan Jepang mengajukan Kaharingan sebagai penyebutan agama Dayak. Sementara pada masa Orde Baru, para penganutnya berintegrasi dengan Hindu, menjadi Hindu Kaharingan. Pemilihan integrasi ke Hindu ini bukan karena kesamaan ritualnya. Tapi dikarenakan Hindu adalah agama tertua di Kalimantan.
Lambat laun, Kaharingan mempunyai tempat ibadah yg dinamakan Balai Basarah atau BALAI KAHARINGAN. Kitab suci agama mereka adalah panaturan dan buku-buku agama lain, seperti Talatah Basarah (Kumpulan Doa), Tawar (petunjuk tatacara meminta pertolongan Tuhan dgn upacara menabur beras), dan sebagainya.
Dewasa ini, suku Dayak sudah diperbolehkan mencantumkan agama Kaharingan dalam Kartu Tanda Penduduk, dengan demikian suku Dayak yang melakukan upacara perkawinan menurut adat Kaharingan, diakui pula pencatatan perkawinan tersebut oleh negara. Hingga tahun 2007, Badan Pusat Statistik Kalteng mencatat ada 223.349 orang penganut Kaharingan di Indonesia
Tetapi di Malaysia Timur (Sarawak, Sabah), nampaknya kepercayaan Dayak ini tidak diakui sebagai bagian umat beragama Hindu, jadi dianggap sebagai masyarakat yang belum menganut suatu agama apapun. Organisasi alim ulama Hindu Kaharingan adalah Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan (MBAHK) pusatnya di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
Langganan:
Postingan (Atom)